Archive for soulmate

super duper soulmate

Posted in Artikel with tags , , on August 18, 2008 by dessirajino
two hearts - sketches by me

two hearts - sketched by me

My soulmate, belahan jiwaku .. siapakah kamu? Ada dimanakah? Pertanyaan yang … halah … nggak penting banget yak?! Tapi sekarang ini menjadi istilah tren sebagai efek dari acara-acara teve yang sedang hits walaupun … haiya sekali lagi … nggak penting juga. Apalagi, seperti juga halnya dengan hari valentine, istilah soulmate menjadi salah kaprah, lebih diarahkan kepada hubungan romantisme belaka.

Sebenarnya aku pun tidak pernah memikirkan hal itu … belahan jiwa, cukup nyata kah atau memang ada kah seseorang yang ‘layak’ kita sebut sebagai belahan jiwa ? Seseorang … di luar sana … di suatu tempat.

Sebuah email dari salah satu teman di suatu milis yang menggelitikku dan memancing komentar. Katanya, pasangan hidup kita itulah belahan jiwa kita. Cocok atau tidak, suka atau tidak, kita harus (berusaha) menerima dan memberi, menyesuaikan sebagai konsekuensi janji sehidup semati -til’ death do us part.

Terus terang, saya cukup setuju dengan konsep ‘menerima’ tanpa syarat kondisi pasangan hidup atas janji yang telah diucapkan, di depan altar dan Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Apalagi kalau konteks email tadi memang berkaitan dengan latarbelakang perselingkuhan, tentunya kondisi pernyataan “selingkuhanku adalah belahan jiwaku” menjadi cuma sekadar pembenaran terhadap tindakannya yang memang sudah salah dari sono-nya. Hidup berpasangan, cocok atau tidak, suka atau tidak, menjadi gemuk, keriput, sakit2an … harus diterima tanpa syarat ! Itulah salib yang harus kita pikul. Hmmm … rasain lu, emangnya enak ! :)

Namun, berbicara mengenai janji perkawinan dan belahan jiwa, itu adalah dua hal yang berbeda. Bahwa pasangan hidup harus menjadi sang belahan jiwa … hmm, nanti dulu ! Sabar … sabar … jangan disalahartikan bahwa olehkarenanya seorang belahan jiwa wajib dicari dengan meninggalkan atau mengabaikan pasangan hidup. Rasanya, that’s not our assignment from God ?! Kalau diibaratkan film Mission Impossible yang jadul itu,  target sesuai rekaman dalam tape yang akan hangus dalam 5 detik berikutnya bukanlah “carilah sang belahan jiwa !”.

Kalau memang ya, lalu bagaimana apabila ternyata aku menemukannya dalam diri teman sesama jenis ? Dalam hal ini, misalnya sahabat perempuanku, anakku, orangtuaku sendiri, atau bahkan dalam bentuk yang lain, misalnya sebuah kelompok, agama, apapun ! Tak tahu ya .. menurutku sih, yang namanya belahan jiwa adalah dimana kita merasakan klop secara kimiawi, cocok terutama dilihat dari cara pandang atau cara berpikir.

Ada satu kutipan dari penulis favoritku  yang -menurutku- menggambarkan arti dari soulmate itu tadi, yaitu

Friendship is born at that moment when one person says to another: “What! You, too? Thought I was the only one.” – C.S. Lewis-

Dalam konteks ini, pertemanan menurut CS Lewis, kuartikan bagaimana kita merasakan hubungan interpersonal yang intens, bukan diukur dari jarak, frekuensi pertemuan atau hubungan fisik lainnya. Belahan jiwa, atau soulmate …  tidak hanya terbatas pada hubungan antar laki-laki dan perempuan, hubungan antara suami dan istri, karena dalam hubungan per-soulmate-an, kita akan merasakan suatu ikatan ibarat puzzle … as if every pieces drops into its places. Dengan hanya berpandangan, dapat saling merasakan .. tanpa kata-kata. Bahwa ternyata belahan jiwa adalah dua pribadi dengan pikiran yang ’satu’. Sekali lagi, bukan terbatas pada hubungan romantis.

Kita bisa punya hubungan yang sangat baik dengan pasangan kita, namun belahan jiwa bisa tetap ada dimanapun, siapapun, dalam bentuk apapun .. tanpa mengganggu ikatan perkawinan kita.

Jadi, belahan jiwa adalah lebih kepada hubungan personal yang sifatnya sangat pribadi, seperti juga hubungan kita dengan Yang Mahakuasa. Tidak ada hubungannya dengan ikatan perkawinan. Kalaupun ternyata suami dan istri dapat merasakan hubungan per-soulmate-an diantara keduanya, maka itulah yang disebut sebagai super duper soulmate (Bravo, you two!). Tapi kalau tidak … ya jangan dipaksakan lah! Itu akan menjadi beban berat dalam perjalanan kita memikul salib.

Dan, kalau pun ternyata tidak, bukan berarti kita menjadi orang yang berdosa dengan tidak membangun dunia per-soulmate-an dengan pasangan. Ibarat puzzle kembali .. not every pieces can match perfectly. Yang penting, apabila semua jalinan ini bisa dirangkai secara harmonis, akan memperkuat eksistensi diri kita terutama dalam menjalankan misi hidup yang tidak impossible. Biarkan rekaman itu hangus dalam 5 detik mendatang, biarkan pesan tugas kita menghilang dalam hitungan detik, tapi tugas tetap tugas. Kita tetap harus menjalankan misi hidup .. dengan atau tanpa sang belahan jiwa (haiya .. sekali lagi, nggk penting bangeeeet !). Be real .. lakukan saja tugas yang ada di depan mata.