Archive for private

being addicted …

Posted in Artikel with tags , , , , , on April 4, 2009 by dessirajino

Pfiuh … howdy, my dashboard … long time no see [keasikan facebook-ing, sorry ya mengabaikanmu untuk waktu yang lama].

Hmmm … facebook, fun – yet annoying …

Mengalami periode being addicted to facebook, heu’euh bangetttt…. Tapi cepat atau lambat, tentunya [kuharap] kesenangan itu toh akan luntur juga, berpikir bahwa f/b bukan soulmate kita, atau pasangan hidup kita … yang semestinya rasa suka dan sayang harus terus diperbarui dan dipupuk terus menerus. 

Ada suara di dalam kepala yang teriak : Hey … wake up ! That ‘beungeut buku’ is not your soulmate, darling … [hahahaha]. Video “Ibu  & Facebook” – Serafina Ophelia berkali-kali mampir di inbox-ku, baik inbox f/b maupun milis, dari terbahak2 menertawakan diri sendiri hingga bosan aku melihatnya.

Okay … itu tadi gambaran totalnya.

Di luar itu, selain surat menohok dari anak gadisku :

… Aku berharap, mama nggak sering2 online biar aku punya banyak waktu untuk ngobrol bareng …

tentunya tidak bisa dipungkiri juga bahwa kita belajar banyak dari situs jejaring sosial ini, terutama bagaimana kita berinteraksi dengan lingkungan tanpa batas, atau dengan kata lain batas virtual tak-hingga dimana waktu, jarak dan fisik tidak menjadi masalah. Sebenarnya bukan hanya situs ini saja yang memungkinkan hal tersebut, tentunya sangat banyak yang lainnya. Secara khusus aku menyebutkan facebook, karena facebook adalah fenomena, bahan pembicaraan tak henti yang terjadi hampir di setiap pertemuan.

Di luar hal itu, sekali lagi, ternyata kita belajar banyak bagaimana memperlakukan orang lain … teman lama, teman baru, suami, istri, anak, kakak atau adik, bahkan orangtua kita. Bagaimana kita bertanggungjawab terhadap tindakan yang kita lakukan. Setiap kali kita memencet tombol ‘Enter’, ‘Post’, ‘Share’ bisa berarti banyak ataupun sama sekali meaningless buat pihak lainnya. Apakah ‘Confirm’ cukup punya arti tertentu, ataukah semudah itu ‘Ignore’-ing dilakukan. 

Being public atau private, sharing informasi, memilih apakah satu isu diberikan melalui private message atau ditulis di wall dan/atau status, yang notabene bersifat ‘public’, menuntut tanggungjawab tersendiri.  Dampak dari materi itu sendiri seyogyanya disadari dengan penuh rasa tanggungjawab, minimal oleh yang menuliskan. Bahwa di kemudian hari akan berdampak lain bagi orang lainnya, hal itu pun semestinya disadari.

Sebenarnya, ini semua menjadi gambaran dari kehidupan yang kita jalani sehari-hari [... deuuh, kejauhan nggak yah?!]. Bagaimana kita bertanggungjawab atas apa yang kita lakukan, bagaimana kita memperlakukan orang -dalam hal ini yang terbatas secara fisik, jarak dan waktu- yang berhubungan dengan kita. 

Kita bisa saja beralasan,

Halaah … belum tentu juga ketemu sama kenalan virtual kita, jadi sah2 aja lah kalau kita pengen iseng. We’re just having fun geto looooh … nothing to do with their feelings.  Gitu aja ribet banget  !

Yup … i’ve been through all those things. And i bet you all did … 

Bukan saja sebagai pelaku, tapi juga sebagai yang diperlakukan demikian. Terus terang, aku pun berkali2 menjadi sang pelaku. Being mean to someone else … dan membuatku merasa bersalah berkali-kali, sejujurnya ! Menjadi orang yang diperlakukan demikian, tentunya membuatku merasa ‘putting in another person’s shoes’. And … it’s so damned uncomfortable !

So, kuharap itu tidak merepresentasikan tindakanku sehari-hari. Aku adalah aku, virtually or reality ! 

Kesimpulan, being addicted to something … bikin capee deeeh. ;-)