Pernahkah terpikir … untuk apa sebenarnya kita menjalani apa yang kita lakukan saat ini ? Kita bangun pagi, terburu2 pergi bekerja, sibuk di kantor dengan segala aktivitas formal maupun non-formal (maksudku, urusan sosialisasi dengan rekan kerja dlsb.), tiap bulan terima gaji, bonus akhir tahun, membesarkan anak-anak dari mulai urusan sekolahnya, siapa teman mainnya, menjalankan ibadah, bla bla bla …
Tapi yang utama dari itu semua, pernahkah terpikir kita bekerja mencari ‘uang’ sebenarnya untuk apa ? Salah satu jawaban paling umum antara lain adalah menabung untuk hari tua. Yap betul juga … tapi hari tua yang seperti apa kah ?
Salah seorang relasi dekatku -tak perlu kusebut siapa- kuanggap sangat naif memandang konsep masa tuanya. Mohon maaf, mungkin istilahku salah dan bukan maksudku menghakimi. Tapi someone very close ini -yang kebetulan sudah cukup sepuh dengan usia diatas 75 tahun- menyatakan keheranannya bahwa ada orang lain sesama lansia, di hari tuanya suka sekali bekerja untuk gereja, berbuat bukan untuk kepentingannya sendiri tapi bagi orang lain. Terus terang, aku jadi terperangah mendengar pendapatnya … hoh ?! (barangkali kalau ada icon drooling disini, aku pasang ekspresi bengong sampai ngeces mendengarnya .. ).
Dalam keadaan sedikit bengong … kutanya dong,
Aku : Memangnya apa sih yang dibayangkan mengenai ‘menghabiskan masa tua’ ?
Dia : Iya … kita bisa bersenang-senang, berleha-leha.
Aku : Bersenang-senang macam apa kah ?
Dia : Jalan-jalan, berlibur, menikmati hidup … yaah, pokoknya senang-senang semacam itu lah.
Aku : Kalau sudah jalan-jalan dan liburan, memangnya mau ngapain lagi ?
Dia : Yaah, pokoknya mikir istirahat deh, mikir kita maunya apa aja … sesukanya kita.
Aku : Tidak pernah terpikirkan ya untuk berbuat sesuatu yang lebih konkrit ? Misalnya beraktivitas untuk Yang Di Atas ? Mensyukuri rahmat Tuhan dengan berbuat ‘lebih’, misalnya melalui sesama ?
Dia : (sambil agak terkejut menjawab pertanyaanku secara dipikir pertanyaan aneh macam apa ini ?) Maksudnya ‘lebih’ tuh apa ya ? Menurut saya, kita berjalan-jalan dan tamasya menikmati pemandangan alam itu artinya kan kita juga mensyukuri apa yang sudah dianugerahkan Tuhan ?? Kalau waktu kita melulu dipakai untuk orang lain, terus untuk diri kita sendiri kapan ? We have already worked hard in most of our lives, so we deserve having fun when we’re old, enjoying ourselves.
Kebetulan, si someone very close ini juga bukanlah orang yang punya tabungan minim, sebaliknya, tabungan harituanya lebih dari cukup. Jauuuuh dari cukup, berlebihan malahan. Buat si someone ini, aneh sekali bahwa ada orang yang tidak memikirkan dirinya sendiri. OMG (ups … maaf, dari sejak kecil aku tak pernah dididik untuk berpikir sedemikian egoisnya) !
Aku cuma berpikir … manusia itu hidup memang tidak ada puasnya yah ?! Kalau saja kita mau merenung sejenak, sepatutnya kita sadari bahwa di setiap periode kehidupan, ada batasan-batasan -apapun bentuknya- yang membuat manusia tidak pernah bisa merasakan kenikmatan maupun keterpurukan absolut. Dan oleh karenanya, semestinya patut dipahami bahwa tentunya ada maksud di balik semuanya itu.
Pada saat fisik masih kuat, kita seolah-olah tidak diberi cukup waktu untuk berhenti sejenak dari tuntutan pekerjaan dan aktivitas mengumpulkan picis. Pada saat waktu dan keuangan mencukupi, kita tidak diberi fisik yang cukup kuat untuk mampu menjalani semua yang sengaja kita tabung untuk dijalankan ‘belakangan hari’. Batasan itu -sekali lagi, apapun bentuknya- ada dan terasa.
Berpikir harta duniawi, tak pernah ada habisnya … baik keinginan maupun kemampuan kita meraihnya. Semakin mampu kita mendapatkan, semakin tinggi pula keinginan dan target yang ingin dicapai. Bagai membangun menara Babel. So … akan sampai setinggi atau sejauh apa kah keinginan kita ? Nobody knows, even ourselves. Kalau pun kita bisa mengumpulkan harta duniawi begitu banyaknya, lalu untuk apa, untuk siapa ? Untuk kepuasan kita kah ? Toh akhirnya tetap sama, bukan UUD lagi tapi UUM … ujung-ujungnya mati.
Sekali lagi, bukannya aku mau menghakimi, tapi mohon maaf apabila aku boleh menilai pemahaman si someone itu kok ya dangkal sekali. Dan sudah lansia pula, dimana rasa-rasanya hubungan vertikal lebih tinggi nilainya daripada nilai-nilai pada jalur horizontal di saat manusia mencapai usia setua itu.
Maka, rasanya perlu kita berdiam sejenak….
Dengan segala keterbatasan, dimana kita tidak dapat menikmati setiap hal secara absolut, maka lalu apakah yang dituju ? Apa sebenarnya yang menjadi tugas kita sih ? Dengan berbuat bagi sesama, apakah manfaatnya buat kita ? Hmmmm … mungkin aku aja yang berpikir terlalu rumit yah.