Archive for liburan

mills & boon vs realita

Posted in Artikel with tags , , , , on July 7, 2008 by dessirajino
With my sisters in front of our house in Bogor, 1969
With my big sisters in front of our house in Bogor, 1969

Libur telah tiba ! Saatnya menyediakan waktu kembali ke kota kelahiran, back to my hometown … huhuy! Buatku, waktu singkat itu sekaligus kumanfaatkan untuk napak tilas perjalanan hidup (wuih .. hebat euy, emang udah berapa jauh jalan2nya ?). Pulang ke kotaku .. persis lirik lagunya KLA Project.

Jarak Jakarta – Bogor tidak jauh, apalagi buat yang sehari2nya memang nglaju, tinggal di Bogor dan bekerja di ibukota. Bahkan untuk beberapa keperluan, aku pun seringkali melakukan hal tersebut -nglaju. Namun, perjalanan menikmati ‘masa lalu’ (walaupun Bogor sudah tidak seperti dulu lagi) tidak setiap saat bisa dinikmati apalagi kalau sedang diburu2 realita-hari-ini.

Saat liburan sekolah, aku selalu mengajak anak-anak mengunjungi mbah kakung dan eyang putri walaupun cuma sebentar, sedikitnya menginap 2 malam. Berharap dalam waktu yang singkat itu, mereka dapat mengenal akarnya. Karena kegiatan liburan ini rutin sejak 13 tahun lalu, anak-anak pun selalu merindukan tempat tinggal dan masalalu ibunya … berusaha menghayati apa yang menjadi bagian dari eksistensinya (ihiks .. jadi terharu ?!). Seperti juga cerita yang kita baca di buku sekolah SD jaman kecil, berlibur di rumah nenek di kampung.

Bukan cerita liburan yang ingin kuceritakan, tapi aku menemukan keasikan membongkar hartakarun milik ibu pada saat anak-anak asik dengan kegiatan bersama eyangnya. Hartakarun itu berupa lemari penuh dengan novel roman -picisan- terbitan Mills&Boon (www.millsandboon.co.uk). Kembali aku mengenang saat masih SMP sesudah tahapan bacaan Lima Sekawan dan Sapta Siaga (www.enidblyton.net), dimana teman-teman laki-laki heboh dengan novel Nick Carter ;-) , teman perempuan tentunya dengan novel roman Barbara Cartland dan yang sejenis …. hihihi, those good ol’ days!

Membaca buku2 terbitan Mills&Boon, secara garis besar isinya sih sama saja … menjual mimpi -mimpi standar bagaimana seorang gadis berhasil menemukan cinta sejatinya -a princess with her knight in shining armor. Umumnya, settingnya hampir sama, cinta seolah2 bertepuk sebelah tangan pada awalnya, adanya pihak ketiga sebagai penghalang, kurang lebih 70% bercerita mengenai sang gadis yang berasal dari kalangan sosial lebih rendah dari sang lelaki, sang gadis seolah2 pribadi rapuh yang wajib ‘diselamatkan’. Apapun settingnya, namun ujungnya selalu sama, berakhir happy ending sang gadis memenangkan cinta sang pangeran. Aku jadi berpikir, mungkin cerita-cerita ini juga ya yang jadi bahan telenovela.

Koleksi Mills&Boon tentu hanya sekadar intermezzo, kenyataan yang dihadapi tidak semudah yang disuguhkan dalam setting apapun dalam buku2 tsb. Cerita basi memang … tapi di tengah realita hidup yang membuat kepala pusing, tidak ada salahnya bermimpi sejenak. Seperti halnya perjalanan ‘pulang ke rumah’ yang kubutuhkan minimal setahun sekali. Yang ini memang bukan mimpi, tapi nostalgia masalalu kubutuhkan untuk menyegarkan ingatan dan mengisi ulang baterai hidupku. Dengan demikian, aku diingatkan proses panjang seperti apa yang telah membawaku hingga pada titik dimana aku berada sekarang.

Layaknya layang-layang, benang diulur agar ia dapat terbang tinggi terbawa angin. Namun, suatu waktu harus ditarik kembali agar ia tidak putus atau kita kehilangan kendali atasnya. Demikian pun mimpi, pada satu titik harus ditarik agar kembali kepada realita … seperti saat terbangun dari tidur … seperti perjalanan kembali ke ibukota dari liburan di kota kelahiran. Aku dan anak-anak ternyata sama saja, sebentar-sebentar melihat ke belakang sepanjang perjalanan kembali sambil mengeluh,

Yaaa … udah mau sampai di Jakarta lagi deeeh !

They’re right, we’re back to the real world … reality that bites !