Label tagged on you …
Kita hidup dalam kelompok masyarakat yang hobi memberi label pada setiap orang. Si anu begini lah, si itu begitu, si A “tukang palak”, si B “baik”, si C “berandal”, si D “genit”. Tidak seperti label tag pada barang pajangan di supermarket yang mudah dilepaskan, begitu melekat pada seseorang label tag menempel erat sulit terlepas, terutama apabila memiliki konotasi negatif. Mudah sekali kita memberi cap, predikat, sebutan atau apa lah namanya kepada seseorang … sambil tak lupa mempengaruhi orang lain, apapun motivasinya.
Pernahkah terpikir, darimana asal label yang melekat pada seseorang. Apakah memang hasil karyanya pribadi, atau bikinan orang lain ? Kalau memang karena tindakannya, yaah … memang tidak salah juga apabila kemudian orang menjadi selalu berpikiran negatif. Tapi kalau bukan, misalnya lebih karena bikin2an orang -atau gosip, maksudnya- apakah bukannya kita semua menjadi raja tega baginya ? Kalaupun misalnya, hanya karena satu kesalahan saja, aku hanya berpikir … will there be any second chance to repair all the damages ?
Semestinya .. kalau kita punya cukup waktu untuk merenung .. kita juga melihat latarbelakang setiap kejadian. Apa sih yang menyebabkan, apakah bukan karena situasi lingkungan yang membuatnya begitu, apakah bukan karena ini atau itu ? Sayangnya, pendapat umum lebih biasa dijadikan tolok ukur. Padahal pendapat umum terbentuk bergantung kepada pihak2 yang memiliki ‘pengaruh’ yang lebih besar di setiap komunitas.
Terkadang kita menjadi orang paling keji di setiap kesempatan menilai seseorang. Pernah terbayang kah apabila giliran kita yang menjadi ‘korban’ ? Cuma satu hal yang bisa diharapkan … kesempatan ! Bisakah kita selalu set gigi netral di setiap kesempatan bertemu dengan seseorang atau sesuatu ? Sehingga kesempatan menjadi ‘terbuka’ bagi siapapun, bagi masyarakat dalam menilai seseorang maupun bagi si ‘korban’. Sayang sekali apabila ternyata kemampuan setiap individu maupun kelompok untuk berkembang, menjadi tumpul akibat label yang sudah telanjur diberikan.