Satu siang .. tiba-tiba teringat suatu masa dalam hidupku, sepotong periode dimana -apabila direnungkan kembali- aku menjadi orang yang paling menyebalkan sedunia. Periode jurassic-nya Dessi Rajino, begitu kata seorang sahabatku.
Tidak penting kapannya, tapi yang pasti, saat ini seolah-olah masa lalu dipaparkan di dalam ingatan. Seingatku, pada saat itu aku menjadi orang yang paling menjengkelkan, sok tahu, dominan, seringkali meremehkan orang lain (adeeeuh .. ngaku dosa neh!), rasanya akulah sang problem solver, orang lain tidak mungkin bisa melakukan seperti yang kulakukan.
Kemarin, di sela-sela obrolan -teringat kembali periode jurassic-ku- kubilang, ada beberapa kenalan yang kalau mendengar namaku pasti akan menyumpahiku
. Kenapa ? Mereka kenal aku di masa ‘kegelapan’, jaman jahiliyahku, kubilang.
Untungnya, Tuhan Yang Mahakuasa sayang padaku maka Dia memberi kesempatan padaku me-review hidup. Selama 10 bulan penuh pikiranku bisa menyendiri walaupun secara teknis tidak sendirian. Pada saat itu, seperti mengalami sang malaikat maut mengajak Uncle Scrooge keliling melayang2 di udara meninjau masa lalunya
, sementara ini -thank God- aku tidak diajak melihat masa depan menengok batu nisanku. Pada kesempatan itu, aku merasa bisa melihat siapa diriku dan sangat mengerti kenapa ada beberapa teman yang nggak banget deh kalau dekat2 denganku.
Tak bisa kusalahkan para kenalan yang menyambutku dengan sumpah serapah. Terkadang ada niatan untuk ‘just say sorry‘ tapi kupikir2, relevansinya apa kah ?
Hai, apakabar ? Maafin aku yah karena kamu kenal aku di masa kegelapanku ?! Mau coba kenal aku di masa aku sudah dapat pencerahan kah ?
HOH?! Bisa bingung mereka, dipikir aku sudah jadi gila barangkali sesudah sekian tahun tidak jumpa. Dan … wuih … hebat sekali aku ya. Sudah bisa menyimpulkan bahwa sudah memperoleh pencerahan sehingga sudah menjadi the One (udah kayak Keanu Reeves atau Jet Li), dan merasa berhak untuk menerima ampunan dari semua makhluk di bumi yang pernah kena sikut
.
Rasanya tak bisa ku’salah’kan masa itu, karena biar bagaimanapun itulah proses yang kujalani hingga menjadi “aku” saat ini. Kalau ada kesempatan (seperti di tulisanku sebelumnya … hanya ‘kesempatan kedua’ yang dibutuhkan), aku akan senang apabila para kenalan bisa mengenalku kembali melalui sudut pandang yang lain. Kalaupun tidak, itulah hidup yang kujalani, ada putih, putih tua, hitam, hitam muda dan abu-abu.
May God bless our path of life, for tomorrow we will not do the same mistakes as before …