Archive for Kartini

Kartini kecil

Posted in Artikel with tags , on April 21, 2008 by dessirajino

Kartini dan baju daerah

my little girl in her kebayaPagi ini -masih subuh, gadis kecilku sudah heboh siap-siap berdandan pergi sekolah. Kubilang berdandan, karena sehari-harinya dia selalu cuek dan tidak peduli dengan penampilannya, hari ini dia betul2 mempersiapkan diri untuk tampil beda. Dengan persiapan memilih kain padanan kebaya sejak beberapa hari sebelumnya, tetap saja pada hari-H dia ribut dengan segala pesan sponsor ‘nggak usah pake dandan ya, ma. aku nggak mau kayak si ini si itu yang pergi ke salon segala … ih, rese’ deh’.

Hari ini sekolahnya mewajibkan semua murid dan guru memakai ’seragam’ baju daerah, alih-alih sebagai peringatan Hari Kartini, saya melihatnya sebagai pemanfaatan momen supaya ada kegiatan ‘rame-rame’. Apapun motivasinya, memang kita harus selalu berpikir positif. Mumpung bisa sekalian memperkenalkan keragaman budaya Indonesia, kapan lagi bisa tampil beda. ‘Semangat Kartini’nya sih cuma pemahaman sekelebat, sudah cukup kalau kita tahu bahwa Kartini berani tampil nyeleneh pada jamannya dan berani menyuarakan isi hatinya kepada orang lain. Bahwa pada akhirnya dia tetap pasrah pada situasi dan kondisi yang ada, tetap ‘kalah’ pada tradisi yang berlaku mungkin bisa jadi tidak ditelaah lebih lanjut. Lagipula … emangnya kenapa sih harus Kartini? Kenapa tidak Tjut Nya’ Dien yang jelas2 turun berperang, bergabung bersama para lelaki melawan ketidakadilan?

Tadi pagi, teman saya Ririn mencantumkan ’semoga kita bisa meneruskan cita-cita Kartini’ pada YM status online-nya.

Saya kirim pesan, “Emangnya apa sih cita-cita Kartini, Rin?”

Dia jawab,”Ini bukan tes kan, mbak?”

Saya jawab lagi,”Hahaha … nggak ada ujiannya kok. Santai aja lagee!”

Sampai kami selesai ngobrol pagi tadi, dia tetap saja tidak menjawab pertanyaan saya itu. Sempat memang kita bahas beberapa issue, antara lain … pagi tadi di kereta semua penumpang yang boleh duduk adalah penumpang perempuan. Jadi para lelaki yang biasanya ’suka pura-pura tidur’ kalau ada yang naik, harus merelakan kursinya kepada kaum perempuan, jadi dilarang pura-pura tidur. Itupun mereka mau, saya pikir, karena ada media TV yang meliput. Lumayaan .. bisa kelihatan di TV kalau dia bersedia dengan segala kebesaran hati bersikap ‘gentleman‘ .. whatever it means !

Kembali ke soal Ririn, saya tidak tahu apakah memang teman saya ini benar-benar tidak tahu, pura-pura tidak tahu, sangat paham sehingga mungkin malas juga -ngapain sih si mbak pagi2 bikin pusing ngebahas Kartini, nggak penting banget deh-, atau jangan2 -mudah2an sih tidak- dia tidak kenal Kartini?! Halah!

Pemahaman saya mengenai emansipasi pada saat sekarang mungkin berbeda dengan semangat emansipasi yang diungkapkan dan dirasakan oleh RA Kartini pada jamannya. Prinsip emansipasi yang saya yakini terbentuk dari irisan antara toleransi, kerjasama, dan equality. Saya yakin perempuan tidak mau mengambil alih peran lelaki, dan demikian juga sebaliknya. Tujuannya tetap satu, memperoleh hasil yang optimal bagi yang berperan, dalam bidang apapun. Win-win solution adalah semangatnya. Emansipasi yang saya anut adalah tidak menuntut diberi kesempatan duduk di kendaraan umum, dibukakan pintu tiap kali kita masuk ke suatu tempat, diberi kesempatan jalan di depan … definitely not that!

Ketika dulu masih bekerja di perusahaan properti yang cukup ternama, saya protes waktu tahu bahwa karyawan perempuan tidak memperoleh penggantian biaya melahirkan dengan pertimbangan sudah memperolehnya dari suami. Padahal suami saya tidak memperoleh hak tersebut dari pihak manapun karena bekerja sebagai freelance architect. Namun, pada saat yang sama dimana saya merasa hak-hak saya sebagai karyawan diabaikan, apakah bukan sebaiknya kita berpikir bahwa karyawan laki-laki juga berhak atas cuti melahirkan 3 bulan yang diterima oleh karyawan perempuan ? Toh istri para karyawan laki-laki juga membutuhkan pendampingan suaminya selama 3 bulan pertama kelahiran sang bayi.

Tentu … ini hanya satu contoh bentuk kesamaan hak yang diterima oleh setiap individu.

Kesimpulannya, sebaiknya bukan perbedaan jenis kelamin yang sebaiknya dijadikan landasan berpikir dan bertindak, tapi lebih kepada hak-hak setiap individu baik laki-laki maupun perempuan. Yang sepatutnya dijadikan dasar pemikiran adalah kemanusiaan … !