Archive for fenomena

Sang Fenomena

Posted in Artikel with tags , on October 21, 2008 by dessirajino

Laskar Pelangi … the phenomenon. Begitu, katanya !

Pertama kali yang kutemukan di toko buku sebetulnya adalah Edensor, buku ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi – Sang Pemimpi – Edensor – Maryamah Karpov. Saat itu adalah sebelum eforia dan kehebohan akan karya Andrea Hirata timbul sebagai dampak dari kemunculannya di acara Kick Andy – Metro TV. Apalagi kemudian, ditambah dengan adaptasinya dalam bentuk film layar lebar. Hampir-hampir aku ambil buku itu untuk kubeli waktu itu, tapi tidak jadi. Aku lebih tertarik kepada The Fifth Mountain dan Veronica Decides To Die, untuk melengkapi koleksi Paulo Coelho-ku.

Bukannya ingin berdalih, tapi coba kita pergi ke toko buku saat ini. Berdiri di depan rak, tahukah ada berapa banyak judul buku karya penulis lama maupun baru, lokal maupun internasional terbit dalam setahun ? Barangkali, kalau motivasi kita adalah membaca apapun, maka cukup pejamkan mata, maju dengan menjulurkan tangan, dan ambil buku pertama yang teraih :) . Hahaha … maaf, cuma sekadar bercanda. Itu caraku menggambarkan betapa banyak hal yang menyertai penerbitan setiap judul buku; tentunya promosi, rekomendasi, kritikadalah baru sebagian kecilnya.

Membaca berbagai pujian dan kritik terhadap karya tulis dan sang penulis, aku tidak bermaksud menambahkan, tentunya. Aku bukan kritikus, juga bukan pembaca yang tekun walaupun senang membaca. Kalau suka dan mood sedang ‘pas’, buku apapun bisa kulahap dalam waktu singkat. 7 buku tipis koleksi The Chronicles of Narnia karya C.S. Lewis sang evangelist kulahap dalam 5 hari (hihihi .. bukan masalah rekor nih ya ?!). Tapi, terus terang, aku kurang suka dengan komersialisasi.

Sampai saat ini belum kubaca satupun karya Andrea Hirata, dan belum tertarik juga untuk ikut antrian menonton film-nya. Dua program Kick Andy dengan Andrea Hirata di dalamnya (yang sudah beberapa kali re-run) pun tidak penuh kulihat. Hanya beberapa kilas pada saat aku mampir ke Gramedia dan melewati rak promosinya. Hihihi … aku tidak anti, tapi sekali lagi, aku kurang suka dengan komersialisasi. Menurutku, sang fenomena sudah masuk di dalam lingkaran tersebut. Walaupun sah2 saja, semuanya kembali kepada yang menjalaninya.

Suatu waktu, barangkali, kalau segala eforia ini sudah memadam -sekali lagi, barangkali- aku akan tertarik untuk membacanya. Kuharap, dengan demikian, aku bisa menikmatinya dengan lebih tenang dan obyektif.