2009 bulan pertama …
Belum lagi terasa suasana ujian akhir sekolah, anakku sudah harus mendaftar sebagai usahanya memperoleh kursi di sekolah lanjutan. Rupanya bukan saja politikus yang berebut kursi, anak sekolah pun demikian.
Karena pendaftaran dibuka hanya pada jam sekolah, maka aku lah yang sibuk mendatangi sekolah yang ingin dituju anakku (ngomong2 .. dia sudah bisa menetapkan keinginannya untuk bersekolah di tempat tsb sejak kelas 4 sd .. lumayan persistent juga nih si kecil).
Sampai di sekolah favorit jam 10 pagi. Berdasarkan pengumuman yang kuperoleh, pendaftaran dibuka sejak jam 8 pagi hingga 12 siang. Pada saat aku datang, dari kejauhan kulihat pintu pagar besi dengan papan pengumuman bertuliskan “Pendaftaran SMP” masih tertutup rapat. Wah… -kupikir- tumben nih, katanya sekolah ngetop kok bisa juga yah telat ?! Sesudah kudatangi lebih dekat, ternyata di balik pintu gerbang besi terlihat meja dengan petugas di belakangnya yang siap menerima. Tapi … menakjubkan … pagar besi itu tetap tertutup rapat dengan gembok. Bayangkan ?!
Yang terpikir pertamakali olehku, mereka takut. Tapi … takut apa ya?! Takut pada calon pendaftar kah ? Atau calon orangtua murid kah ? Atau .. jangan2 takut perampok, atau tukang palak ?
Kemudian, dengan membuat kesimpulan asal-asalan, kuputuskan bahwa menurut sang sekolah favorit, calon orangtua murid dan pendaftar itu adalah tukang palak (hihihi … kebalik kalee).
Lalu, bagaimana dengan aku ? Calon orangtua yang anaknya sangat kepingin bersekolah di sang sekolah favorit ? Rupanya hati nuraniku kalah oleh keinginan si kecil. Dengan ngedumel disertai perasaan tidak terima (*tampang nggak rela* mode on deh …), tetap saja kulakukan proses administrasi menyebalkan dengan saling selip dokumen di antara jeruji besi.
Harapanku cuma satu, mudah-mudahan anakku berhasil lolos deh .. jadi aku bisa protes memanfaatkan posisiku sebagai orangtua murid (hihihi .. ngarep!). Atau, minimal bisa kuajarkan anakku untuk melihat kondisi seperti apa yang dihadapinya kemudian. Kurasa, dengan sikap asertif dan penuh inisiatif-nya, dia mampu menghadapi dan bahkan punya kemampuan untuk merubah suatu kondisi sesuai harapannya. Semoga … !
Tapi tetap saja aku heran .. kok bisa ya sebuah institusi pendidikan (haree gene) masih punya pandangan kuno, menganggap siswa dan orangtua -terutama- sebagai lawan tanding, dan bukannya partner ?! Kalau mau dipikir2 soal untung-rugi, toh posisi semestinya sebanding. Lebih bagus menempatkan diri sebagai sama-sama saling menguntungkan daripada sebaliknya, bukan ?!