Archive for angkot

Stop kiri depan, pirrrrr ….

Posted in Artikel with tags , , , , , on September 22, 2008 by dessirajino

Satu hal yang kusuka pada saat menggunakan angkutan umum di area Jabodetabek, setiap saat ada saja hal baru yang kutemukan. Apakah itu kelucuan, karakter orang-orang, pelajaran hidup dalam hal kesabaran serta toleransi, namun yang utama adalah rasa syukur kepada Tuhan. Di luar gerutuan akibat pelayanan yang tidak me’manusia’kan pengguna jasa transportasi umum, banyak hal yang membuat kita sungguh menyadari dan sepatutnya bersyukur betapa berwarnanya hidup kita.

Kereta Api Ekonomi Jabotabek

Naik kereta api ekonomi jurusan Jakarta – Bogor paling asik kalau berangkat jam 8 – 10 pagi dari Jakarta. Pada jam-jam itu, saat tidak perlu berlomba dengan para komuter, pengguna kereta api adalah mahasiswa seputaran Depok, ibu-ibu dengan anak balita (yang lebih tua sedang bersekolah, tentunya), pedagang pasar seputaran Depok-Sawangan-Bojong Gede-Citayam. Kadang-kadang diseling pegawai kantor pemerintah yang pulang duluan atau masuk siang, satpam yang pulang bertugas malam. Yang paling seru, semakin banyak jumlah ibu dan anak, maka akan bertambah pula jumlah pedagang asongan.

Pedagang yang paling aktif tentunya yang berjualan minuman dingin, mainan, koran dan majalah, r-t-p (rokok-tisu-permen), asesoris buatan Cina (mulai peniti, jepit rambut, jarum, hingga obeng, tang), serta pedagang buah-buahan. Selain beragamnya barang dagangan, berbagai cara juga dilancarkan agar barang dagangannya laku.

Ada satu mainan anak-anak, boneka perempuan memakai rok panjang yang akan bergerak-gerak apabila tombol on-nya dipasang. Lagu pengiringnya … pfiuh … berisiknya minta ampun ! :) Ada 3 pihak yang berperan disini, sang pedagang yang setia memasang si boneka mainan tanpa henti, berharap sang anak yang sudah pasang muka kepingin berhasil membujuk ibunya -yang juga sudah siap dengan setel-an muka tak terpancing. Sedangkan penumpang lainnya, sambil kegerahan  dan pasrah menahan suara berisik, menarik napas lega apabila salah satu dari 3 pihak tadi kalah. Akhirnya …. !

Tentunya akan ada satu bonus apabila ternyata yang menang adalah sang ibu, maka kita harus tahan juga selanjutnya mendengar rengekan si anak.

Metromini sama saja dengan Kopaja

Naik angkutan yang satu ini, kita harus siap adu otot, dipindah ke kendaraan lain apabila yang kita tumpangi ingin berputarbalik. Tak peduli apakah kita sedang terkantuk-kantuk, kondektur dengan kepatuhan yang sangat kepada supir, akan membangunkan kita untuk segera angkat kaki dari kendaraannya. Hal ini terutama biasa terjadi pada jam-jam ’sepi sewa’, sekitar jam 14.00 – 16.00. Keterlaluan ! Si supir, kusebut sebagai pengecut, karena pada dasarnya tidak punya nyali untuk langsung meminta penumpang. Dia akan selalu memerintahkan kondekturnya -dengan galak, tentunya- yang melakukan pekerjaan kotor.

Kekompakan penumpang menjadi hal penting di atas kendaraan ini. Suatu kali, dalam perjalanan pulang dari terminal Kampung Melayu, kami penumpang Metromini 52 menuju Pondok Kopi yang selama perjalanan sudah cape merasakan supir yang sikapnya tidak simpatik dan ugal-ugalan membawa kendaraan, merasakan gelagat pemindahan semena-mena itu.   Begitu melihat ada kendaraan lain sejenis, sang supir dengan segera kasak-kusuk dengan kondekturnya untuk memindahkan penumpang.  Melihat jumlah penumpang di kendaraan lain tersebut, kami pun berhitung. Dan berdasarkan perhitungan jumlah penumpang dan kursi, maka kami tahu bahwa apabila dipindahkan maka perjalanan selanjutnya akan kami tempuh dengan berdiri. Mana siang-siang panas begini … omg !

Tiba-tiba, salah satu penumpang -seorang bapak berkumis berbadan kecil- berteriak kepada supir sambil bercekak pinggang,

Mau apa kamu ? Jalan terus, jangan berhenti ! Seenaknya aja pindahin penumpang. Lain kali kalau maunya gampang, nggak usah ‘narik’. Diam aja di rumah seharian !

Teriakan si bapak rupanya menyadarkan penumpang lainnya, sehingga kami semua pun ikut protes. Hahahaha … ! Akhirnya, dengan bersungut-sungut, supir meneruskan perjalanan sampai ke terminal akhir.

Bus Patas, Patas AC dan Bus AKAP (Antar Kota Antar Propinsi)

Nah … yang paling menyenangkan kalau naik kendaraan besar jenis bus patas ini adalah bersiap mendengarkan pengamen -bisa sendiri, bisa beregu. Sajian kemampuan pun beragam, mulai lagu-lagu pop, rohani, deklamasi, orasi singkat, hingga lantunan doa-doa (biasanya dibawakan oleh para saudara Muslimin/ah).

Sedikit tips kalau mau mendengarkan kualitas para pengamen dari sisi terbaik adalah area 3 baris bangku terdepan, atau 3 baris bangku belakang dihitung ke arah depan dari pintu belakang. Tidak disarankan pada area bangku balkon (baris paling belakang di atas mesin biasanya posisinya lebih tinggi dari baris lainnya) atau pada baris tengah. Kenapa ? Bangku belakang tidak menjadi masalah apabila bus dirawat cukup baik sehingga bunyi dan panas mesin tidak mengganggu. Namun, proses buka tutup pintu belakang karena keluar-masuknya penumpang, akan mempengaruhi konsentrasi mendengarkan sang performer. Nggak asik kalee .. ?! Bangku tengah tidak disarankan karena membuat kita jadi serba salah. Duduk di baris kiri, berarti kita hanya mendengar dengan kuping kanan, duduk di baris kanan, hanya dengan kuping kiri. Tidak enak, bukan ? Selain itu, salah-salah, malah kita bisa terkena gagang gitar sang pengamen yang harus selalu menyesuaikan posisinya bergantung kepada penuh atau tidaknya kendaraan. Adeeuuh .. lebih tidak nyaman lagi, bukan ?

Pernah dalam perjalanan dari Bekasi menuju Stasiun Kota, seorang pengamen menyanyikan lagu Mungkin Nanti-nya Peter Pan. Terakhir, seperti pada umumnya seorang pengamen menyudahi penampilannya, dia mengucapkan terima kasih sambil minta maaf karena penampilan ‘buruk’nya. Tidak tahan aku tidak nyeletuk,

Iya, nggak papa kok, bang. Makanya lain kali kalau biasanya nyanyiin Gereja Tua-nya Panbers, udah lah nggak usah pake nyanyi lagunya Peter Pan segala …

Bukannya marah, dia malah tertawa, berbarengan juga dengan penumpang satu bus yang ikut tertawa saking sebenarnya tidak tahan dari sejak pertama dia menyanyikan lagu tadi, tapi sama-sama tidak tega melihat usahanya.

Mikrolet

Ini kendaraan standar harianku kalau mengantar anak-anak pergi-pulang sekolah. Kendaraan yang umumnya bermerk Toyota Kijang -sekarang sudah ada yang menggunakan Daihatsu GranMax- berwarna biru muda. Untuk beberapa jurusan ‘luar kota Jakarta’ ada yang berwarna merah, kuning atau hijau. Jumlah standar penumpang yang bisa diangkut di bangku belakang adalah kombinasi 4-6, sisi pintu bisa memuat 4 orang tidak berbadan besar, sisi satunya bisa memuat 6 orang tidak berbadan besar juga.

Kadang kita juga harus bersabar kalau sang supir kebut-kebutan dengan sesama supir mikrolet lain. Alasannya bisa macam-macam, tapi umumnya hal yang memicu adalah karena tidak terima di’sodok’ urutannya di sepanjang jalur yang dilalui.

Di mikrolet pula, Sabtu minggu lalu, senang sekali pagi kami diceriakan oleh seorang anak laki yang  hanya memiliki lengan tanpa tangan -hanya satu dua daging tumbuh yang menunjukkan fungsi sebagai jari, satu kaki yang lengkap, satu kaki lagi hanya sampai lututnya. Bersama ibu dan kakak perempuannya yang dari penampilannya kita akan tahu mereka berasal dari keluarga yang tidak berkecukupan, mereka bertiga amat gembira menikmati perjalanan. Sepanjang perjalanan yang singkat, sang anak laki sebentar-sebentar mencium pipi ibunya dan bercanda dengan kakaknya. Menikmati pemandangan pagi demikian baik, menjadi berkat bagi kami penumpang lainnya. Karenanya, sungguh bersyukur kami atas anugerah dan rejeki yang diberikan Tuhan.

Jadi …

apapun kendaraan umum yang kita naiki (selain transjakarta yang ‘masih’ keren dan ‘cukup’ teratur itu), yang penting, sebagai pengguna kita harus siap lahir batin. Jangan sampai salah kostum, misalnya menggunakan sepatu berhak tinggi, usahakan pakai celana panjang saja untuk para perempuan, tas jangan lupa selalu diletakkan di depan dada untuk menghindari copet atau jambret. Selain itu, janganlah memiliki ekspektasi terlalu tinggi bahwa supir akan sabar menunggu kita naik ke atas kendaraannya.

Tapi, satu hal yang utama adalah, kita sebaiknya sadar bahwa kita sebagai penumpang berhak atas segala perlakuan yang adil dan fair. Jadi kalau kita tidak menerima perlakuan yang sepantasnya sebagai pengguna jasa angkutan umum, kita berhak protes. Kalaupun tidak puas, tinggal ketok plafon angkot atau kaca bus, sambil teriak,

Stop pinggir kiri depan, pirrrrrr …. !