ngobrol …
nge-gosip …
chitchat-ing …
‘curhat’ …
diskusi …
apapun istilahnya. mengobrol adalah kegiatan yang dilakukan oleh dua atau lebih orang. jelas, bukan? kalau satu orang, tentu bukan mengobrol namanya.
perlu kah ? tergantung. penting ? bisa ya, bisa tidak. semua tergantung kepada intensi, niat dan situasi, serta pelakunya.
kalau terlihat perempuan bergerombol saling mengobrol, maka umumnya -mohon maaf- dikatakan “itu lho, kelompok ibu2 sedang bergosip”, terlepas benar atau tidak. kalau laki-laki yang melakukan kegiatan yang sama, tentu istilahnya adalah “kelompok bapak2 bertukar-pikiran”, padahal kemungkinan bahan diskusinya adalah kelompok lainnya *ups … maaf, mungkin salah, kok jadi diskriminatif yah? hihi .. skip .. skip ..*.
tadi kukatakan dua hal … perlu dan penting, karena menurutku, setiap aktivitas mengobrol -apapun bentuknya- memiliki kekuatannya masing2.
terkadang -atau bahkan seringkali- ngobrol itu dibutuhkan. bersosialisasi, sekadar sopan santun, menunjukkan perhatian, memperoleh informasi, bahkan mempengaruhi dan persuasi bisa dilakukan melalui ’sekadar mengobroll’. semuanya tergantung kepada kualitas obrolannya. dalam konteks niat atau intensi, seberapa berkualitasnya kah materi obrolan bisa berpengaruh bagi pelakunya maupun pihak lain ? dalam konteks pelaku, sejauh apakah materi obrolan bisa menunjukkan karakter individunya ?
teringat salah satu teman pernah bercerita betapa hasil pembicaraan dari mulut-ke-mulut memberikan dampak yang besar bagi kelangsungan hubungan orangtua murid dan guru dalam lingkungan suatu sekolah, teringat pula hasil akhir yang berbeda dari materi yang sama pada saat obrolan beralih dari satu kelompok ke kelompok yang lain [... hmmm, rapat para ibu ortu murid di sekolah memang 'beda' yah ?!].
kenapa ya … yang terlintas dalam imajinasiku adalah kumpulan huruf berlompatan dalam awan obrolan dari satu grup pindah ke grup lainnya melalui tiupan angin … hihihi … jadi ingat juga permainan kata yang disampaikan berantai dari ujung satu ke ujung lainnya pada saat latihan pramuka di SMP dulu. betapa satu kalimat bisa berubah total, baik susunan maupun maknanya.
seberapa besar kekuatan obrolan ? kembali kepada kita sebagai pelaku. mau dibawa kemana kah arah pembicaraan ? merugikan atau menguntungkan … mau pilih yang mana ? orang bijak taat pajak …*ups salah* … orang bijak akan tanggap memanfaatkan kekuatan obrolan.
mungkin dengan ketenangan, kita bisa menjadi salah satu dari sang bijak.