Cihuyyyy … udah bulan Desember lagi (hihihi … telat yah ?! sekarang udah pertengahan bulan lagee .. biarin!).
Ehmmm … memori bulan Desember-ku berkisar antara hari-hari hujan-mendung kelabu, pohon rambutan di halaman depan mulai berbuah, ulangtahun, aroma natal (segala pernak-pernik hingga bau masakan memenuhi ruangan), sibuuuk … antara lain kaastengels n chocolate pudding made-by-me kesukaan keluarga hingga teman dekat, family visits, christmas choir, late-night family gathering selesai misa malam natal … but definitely no christmas presents
… dan masih banyak lagi, tentunya.
Segala kegembiraan itu tentunya diikuti dengan reminder … hayo, udah ngaku dosa belum (halah … pengakuan dosa? minimal dua kali setahun, natal dan paskah) ? Dulu waktu masih kecil, menerima sakramen pengakuan dosa cuma sekadar formalitas buatku, hanya sebagai kewajiban rutin tanpa pemahaman lebih mendalam. Semakin dewasa, semakin berat rasanya kakiku melangkah menuju ruangan kecil berbatas sekat tembus pandang itu.
Bukan karena merasa semakin bertambahnya hal yang harus kuakui sebagai suatu ‘kesalahan’, tapi kenyataan harus mengakuinya di hadapan orang lain .. mungkin itu yang membuat langkahku tertahan. Berdoa, bercakap-cakap dengan Tuhan-ku secara pribadi .. di dalam hati .. mungkin terasa lebih ‘mudah’ karena physically aku berhadapan dengan diriku sendiri. Mungkin karena itu lah .. maka dibuat sistem pengakuan dosa ‘di hadapan orang lain’. Jika berani menyatakan di depan seorang saksi hidup, maka semestinya kita juga sanggup memaafkan, membuat komitmen atau resolusi perbaikan-diri … yang konsekuensinya, harus melaksanakan tanpa kecuali.
Kupikir … hal itu lah yang paling membuatku ragu. Sanggupkah aku melaksanakan resolusi perubahan-diri dari kesalahan yang kulakukan namun tak sanggup kuakui itu ? Pada usiaku seperti sekarang, aku menjadi paham kenapa dulu ibuku selalu berlinang air mata setiap kali ia keluar dari ruang pengakuan dosa (karena hal itu pun kualami sebelum Paskah hampir tiga tahun yang lalu sesudah 10 tahun tidak pernah … dan sejak itu belum lagi aku berani mengalaminya kembali).
So … it’s December already.
Selain semua persiapan itu … aroma Natal, latihan koor, serta segala kunjungan … sanggupkah aku memantapkan langkahku memasuki ruang kecil bersekat itu kembali ?