Archive for August, 2008

Done .. you’re tagged !

Posted in Artikel with tags , on August 29, 2008 by dessirajino

Label tagged on you …

Kita hidup dalam kelompok masyarakat yang hobi memberi label pada setiap orang. Si anu begini lah, si itu begitu, si A “tukang palak”, si B “baik”, si C “berandal”, si D “genit”. Tidak seperti label tag pada barang pajangan di supermarket yang mudah dilepaskan, begitu melekat pada seseorang label tag menempel erat sulit terlepas, terutama apabila memiliki konotasi negatif. Mudah sekali kita memberi cap, predikat, sebutan atau apa lah namanya kepada seseorang … sambil tak lupa mempengaruhi orang lain, apapun motivasinya.

Pernahkah terpikir, darimana asal label yang melekat pada seseorang. Apakah memang hasil karyanya pribadi, atau bikinan orang lain ? Kalau memang karena tindakannya, yaah … memang tidak salah juga apabila kemudian orang menjadi selalu berpikiran negatif. Tapi kalau bukan, misalnya lebih karena bikin2an orang -atau gosip, maksudnya- apakah bukannya kita semua menjadi raja tega baginya ? Kalaupun misalnya, hanya karena satu kesalahan saja, aku hanya berpikir … will there be any second chance to repair all the damages ?

Semestinya .. kalau kita punya cukup waktu untuk merenung .. kita juga melihat latarbelakang setiap kejadian. Apa sih yang menyebabkan, apakah bukan karena situasi lingkungan yang membuatnya begitu, apakah bukan karena ini atau itu ? Sayangnya, pendapat umum lebih biasa dijadikan tolok ukur. Padahal pendapat umum terbentuk bergantung kepada pihak2 yang memiliki ‘pengaruh’ yang lebih besar di setiap komunitas.

Terkadang kita menjadi orang paling keji di setiap kesempatan menilai seseorang. Pernah terbayang kah apabila giliran kita yang menjadi ‘korban’ ? Cuma satu hal yang bisa diharapkan … kesempatan ! Bisakah kita selalu set gigi netral di setiap kesempatan bertemu dengan seseorang atau sesuatu ? Sehingga kesempatan menjadi ‘terbuka’  bagi siapapun, bagi masyarakat dalam menilai seseorang maupun bagi si ‘korban’. Sayang sekali apabila ternyata kemampuan setiap individu maupun kelompok untuk berkembang, menjadi tumpul akibat label yang sudah telanjur diberikan.

Jason Mraz – I’m Yours

Posted in Musik on August 28, 2008 by dessirajino

just found him … hmm, yummy …

remembering you, mother

Posted in Artikel on August 28, 2008 by dessirajino

Aku selalu ingat …

… saat ibu ngebut menyetir mobil, berusaha mengejar bis yang membawa teman2ku karyawisata ke Ciampea, waktu aku kelas 5 SD. Aku tahu ibu merasa bersalah karena telat mengantarku ke sekolah sehingga  ketinggalan bis, padahal dengan senang hati kuhabiskan bekalku di kursi belakang.

… ibu tidak pernah mengeluh karena aku mengajak teman2ku main ke rumah sepulang sekolah, bahkan siap sedia dengan makan siang ala kadarnya. Bukan cuma satu dua orang, tapi satu kelas. Bahkan waktu kelas 3 SMP, acara perpisahan kelas dipindahkan mendadak ke rumahku. Aku sih lupa … kenapa juga ya waktu itu bisa begitu ?! :) Yang pasti, waktu aku telepon menanyakan kesediaannya, ibu langsung bilang : Ya udah, acaranya pindahin aja ke rumah.

Kejadian seperti ini berlanjut sampai waktu aku kuliah. Ibu tidak pernah mengeluh, kalau aku mengajak teman2ku dari Bandung tiba2 mampir ke rumah cuma untuk numpang makan dan kemudian pergi lagi. Bahkan, suamiku yang waktu itu statusnya masih pacar, tiba-tiba menghubungiku suatu hari di tengah malam. Dia bersama 15 orang teman2nya butuh tempat menginap, yang karena sesuatu hal membuatnya kehabisan kamar hotel di daerah Puncak, Bogor. Ibu, malam itu dengan segera membantu menghubungi kenalannya yang kebetulan punya tempat, sekaligus juga langsung menyiapkan sarapan pagi untuk keesokan harinya. Emang dasar .. calon mantu nggak tahu diri !

… ibu selalu menemaniku belajar saat ujian SMA. Walaupun cuma sekadar pindah tidur di tempat tidurku, semangat yang ibu berikan berarti besar bagiku. Setiap musim ulangan, sejak kecil, kalau ibu mengantar kami berenam ke sekolah, mobil kami selalu mampir di toko langganan dalam perjalanan menuju sekolah. Dan ibu membelikan kami masing2 satu batang coklat ‘ayam’ (ada gambar ayam jago pada bungkusnya yang berwarna merah-putih) untuk menyemangati.

… ibu tidak pernah melarangku. Bahkan yang kuingat, sejak kecil aku tidak pernah meminta ijin kalau ada acara yang akan kuikuti, aku hanya ‘memberi tahu’. Aku tahu ibu selalu percaya padaku.

she sang Ave Maria specially for me in my wedding mass. Walaupun sudah kularang ibu menyanyi, karena aku tidak mau ibu yang sudah repot dengan segala persiapan acara harus dihebohkan lagi dengan latihan dan ‘demam panggung’. Ternyata  .. ihiks .. bahkan pada saatnya, aku masih tidak sadar kalau itu suara ibu. Maaf-in aku ya, bu.

… selalu kesal kalau ibu mengeluh soal adikku yang jarang pulang menengok anaknya. Aku selalu bilang,

Ibu semestinya complain langsung sama orangnya. Kalau nggak, mana dia tahu kalau ibu nggak suka dia begitu. Selama ibu nggak sampaikan langsung ke orangnya, ya mendingan nggak usah complain dong, karena artinya itu bukan masalah.

Padahal, pada siapa lagi ibu bisa mengeluh kalau bukan padaku, karena waktu itu hanya aku yang bekerja di Bogor dan tinggal bersamanya di rumah.

… selalu kesal karena Ibu sibuk latihan koor dan berkegiatan lain2 di gereja, kalau aku sedang berlibur bersama anak2 dan suamiku di Bogor. Aku mengeluh karena ibu seolah2 tidak memperhatikan anak dan cucu2nya. Baru aku sadar betapa hidup ibu sepenuhnya memang untuk melayani Tuhan, sehingga pada saatnya dia dipanggil, bukan cuma keluarganya saja yang merasa kehilangan … tapi juga semua orang yang merasakan kasih sayangnya. Dan aku semestinya tidak boleh mengeluh, karena semua yang ibu lakukan adalah merupakan representasi dari kasihNya. Aku belajar .. bahwa semestinya lah kita lebih memberi daripada menerima, karena dengan memberi artinya kita juga menerima.

… ibu selalu berdoa Rosario setiap malam, bahkan pada saat dirawat di ruang steril RSCM dia selalu marah kalau kita menemaninya berdoa sambil terkantuk-kantuk. Padahal kan kita cape banget menunggu di teras RSCM lantai 6 yang ber-angin (aduuuh .. sampai masuk angin), tidur pakai tikar, pulang kerja atau baru datang dari Bandung setiap akhir minggu. Mmmm .. kita waktu itu tidak membayangkan betapa ibu lebih menderita lagi selama proses pengobatan leukemia-nya. Tapi dia tegar sekali ya, dan selalu bersemangat untuk sembuh. Aku rasa, saat terakhir sebelum kepergiannya, ibu merasa sudah cape kalau harus menjalani proses yang sama lagi seperti 8 tahun sebelumnya.

… ibu selalu menyempatkan misa harian setiap pagi. Itu juga yang kulakukan sejak SMP, SMA dan waktu kuliah di Bandung .. kenapa sekarang nggak lagi ya ?

Ugh … i miss you so much, bu, aku sayang ibu.

Could i be like you someday … for just a little bit ?

Josh Groban – February Song

Posted in Musik on August 26, 2008 by dessirajino

… i’m sorry if i let you down, forgive me if i slip away …

my colored hair

Posted in Artikel on August 24, 2008 by dessirajino

one day .. bad hair day ..

Lalu aku memutuskan pergi gunting rambut ke salon langganan yang lokasinya lumayan jauuuh. Mumpung jarang-jarang bisa, akhirnya kuputuskan bukan cuma gunting rambut, tapi sedikit bereksperimen dengan harta milik yang menempel di kepala ini. Hari itu kupilih warna khusus untuk meng-highlight rambutku. Keputusan lumayan nekad karena selama ini aku selalu datang ke salon hanya dengan permintaan minimal : keramas, gunting, dikeringkan dengan hair dryer yang di-set tidak terlalu panas, tidak diblow. Bahkan, cuma tambahan vitamin saja bisa membuatku berpikir lama sampai bikin hairstylist-ku bosan.

Sayangnya .. rupanya ke-nekad-anku tidak didukung orang2 yang ada di sekelilingku. Renata, anakku, langsung berkomentar,

Idiiiih, mama … kok jadi kayak mama-nya teman2ku yang kayak tante2 itu seeeh ! (walaaaah .. ! dia selama ini selalu merasa ’senang’ kalau aku datang ke sekolah dengan gaya cuek tanpa dandanan yang membuatku terlihat seperti ‘teman’ baginya)

Adik iparku lain lagi,

Ck .. ck .. ck .. ngga ada warna lainnya yah ?! Kok jadi kayak rambut kebakar matahari gitu seh ?! Elo keliatan biasa nyemplung di dekat kapal feri yah, ngambilin recehan yang dilemparin orang2 dari kapal ? (hhhhhh … ! :D )

Suamiku,

Hmmm … warnanya kampungan banget ! ( grrrrh … #$*@X% )

Apapun, aku tahu mereka belum terbiasa dengan penampilan baruku. Hihihihi … biarin aja ! Lama-lama juga biasa, begitu kupikir.

Memang awalnya, mendengar komentar orang, sempat merasa tidak pede juga. Namun, aku berusaha untuk tak ambil pusing komentar orang lain. Pada dasarnya, berbicara mengenai penampilan, yang penting adalah bagaimana kita merasa nyaman dengan diri kita sendiri. Buat aku yang selama ini tidak terlalu menganggap bahwa tampilan fisik adalah utama, penampilan baru juga tidak terlalu mempengaruhi aktivitas harianku. Nggak penting banget ya … apalagi kalau mengingat betapa banyaknya yang harus kulakukan (haiya … pengangguran sok banyak acara).

Hihi .. jadi geli sendiri kalau mengingat betapa proses ingin ‘tampil beda’ kurasakan sebagai suatu proses “keluar dari kotak”. Seperti juga keputusan impulsif lain yang pernah kulakukan, yang kurasakan ‘cuma’ : i want it, i’m sure i can handle it, i fell free to do it. Well .. so far, semuanya berjalan baik-baik saja. Semoga bisa begitu seterusnya :)

Rida Sita Dewi – Ketika Kau Jauh

Posted in Musik with tags on August 24, 2008 by dessirajino

... tapi sungguh ku tak ingin
engkau jauh dari diriku ...

super duper soulmate

Posted in Artikel with tags , , on August 18, 2008 by dessirajino
two hearts - sketches by me

two hearts - sketched by me

My soulmate, belahan jiwaku .. siapakah kamu? Ada dimanakah? Pertanyaan yang … halah … nggak penting banget yak?! Tapi sekarang ini menjadi istilah tren sebagai efek dari acara-acara teve yang sedang hits walaupun … haiya sekali lagi … nggak penting juga. Apalagi, seperti juga halnya dengan hari valentine, istilah soulmate menjadi salah kaprah, lebih diarahkan kepada hubungan romantisme belaka.

Sebenarnya aku pun tidak pernah memikirkan hal itu … belahan jiwa, cukup nyata kah atau memang ada kah seseorang yang ‘layak’ kita sebut sebagai belahan jiwa ? Seseorang … di luar sana … di suatu tempat.

Sebuah email dari salah satu teman di suatu milis yang menggelitikku dan memancing komentar. Katanya, pasangan hidup kita itulah belahan jiwa kita. Cocok atau tidak, suka atau tidak, kita harus (berusaha) menerima dan memberi, menyesuaikan sebagai konsekuensi janji sehidup semati -til’ death do us part.

Terus terang, saya cukup setuju dengan konsep ‘menerima’ tanpa syarat kondisi pasangan hidup atas janji yang telah diucapkan, di depan altar dan Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Apalagi kalau konteks email tadi memang berkaitan dengan latarbelakang perselingkuhan, tentunya kondisi pernyataan “selingkuhanku adalah belahan jiwaku” menjadi cuma sekadar pembenaran terhadap tindakannya yang memang sudah salah dari sono-nya. Hidup berpasangan, cocok atau tidak, suka atau tidak, menjadi gemuk, keriput, sakit2an … harus diterima tanpa syarat ! Itulah salib yang harus kita pikul. Hmmm … rasain lu, emangnya enak ! :)

Namun, berbicara mengenai janji perkawinan dan belahan jiwa, itu adalah dua hal yang berbeda. Bahwa pasangan hidup harus menjadi sang belahan jiwa … hmm, nanti dulu ! Sabar … sabar … jangan disalahartikan bahwa olehkarenanya seorang belahan jiwa wajib dicari dengan meninggalkan atau mengabaikan pasangan hidup. Rasanya, that’s not our assignment from God ?! Kalau diibaratkan film Mission Impossible yang jadul itu,  target sesuai rekaman dalam tape yang akan hangus dalam 5 detik berikutnya bukanlah “carilah sang belahan jiwa !”.

Kalau memang ya, lalu bagaimana apabila ternyata aku menemukannya dalam diri teman sesama jenis ? Dalam hal ini, misalnya sahabat perempuanku, anakku, orangtuaku sendiri, atau bahkan dalam bentuk yang lain, misalnya sebuah kelompok, agama, apapun ! Tak tahu ya .. menurutku sih, yang namanya belahan jiwa adalah dimana kita merasakan klop secara kimiawi, cocok terutama dilihat dari cara pandang atau cara berpikir.

Ada satu kutipan dari penulis favoritku  yang -menurutku- menggambarkan arti dari soulmate itu tadi, yaitu

Friendship is born at that moment when one person says to another: “What! You, too? Thought I was the only one.” – C.S. Lewis-

Dalam konteks ini, pertemanan menurut CS Lewis, kuartikan bagaimana kita merasakan hubungan interpersonal yang intens, bukan diukur dari jarak, frekuensi pertemuan atau hubungan fisik lainnya. Belahan jiwa, atau soulmate …  tidak hanya terbatas pada hubungan antar laki-laki dan perempuan, hubungan antara suami dan istri, karena dalam hubungan per-soulmate-an, kita akan merasakan suatu ikatan ibarat puzzle … as if every pieces drops into its places. Dengan hanya berpandangan, dapat saling merasakan .. tanpa kata-kata. Bahwa ternyata belahan jiwa adalah dua pribadi dengan pikiran yang ’satu’. Sekali lagi, bukan terbatas pada hubungan romantis.

Kita bisa punya hubungan yang sangat baik dengan pasangan kita, namun belahan jiwa bisa tetap ada dimanapun, siapapun, dalam bentuk apapun .. tanpa mengganggu ikatan perkawinan kita.

Jadi, belahan jiwa adalah lebih kepada hubungan personal yang sifatnya sangat pribadi, seperti juga hubungan kita dengan Yang Mahakuasa. Tidak ada hubungannya dengan ikatan perkawinan. Kalaupun ternyata suami dan istri dapat merasakan hubungan per-soulmate-an diantara keduanya, maka itulah yang disebut sebagai super duper soulmate (Bravo, you two!). Tapi kalau tidak … ya jangan dipaksakan lah! Itu akan menjadi beban berat dalam perjalanan kita memikul salib.

Dan, kalau pun ternyata tidak, bukan berarti kita menjadi orang yang berdosa dengan tidak membangun dunia per-soulmate-an dengan pasangan. Ibarat puzzle kembali .. not every pieces can match perfectly. Yang penting, apabila semua jalinan ini bisa dirangkai secara harmonis, akan memperkuat eksistensi diri kita terutama dalam menjalankan misi hidup yang tidak impossible. Biarkan rekaman itu hangus dalam 5 detik mendatang, biarkan pesan tugas kita menghilang dalam hitungan detik, tapi tugas tetap tugas. Kita tetap harus menjalankan misi hidup .. dengan atau tanpa sang belahan jiwa (haiya .. sekali lagi, nggk penting bangeeeet !). Be real .. lakukan saja tugas yang ada di depan mata.

Wet Wet Wet – If I Never See You Again

Posted in Musik on August 3, 2008 by dessirajino

what if ..