18 – 25 tahun … bukan waktu sebentar

Posted in Artikel on July 9, 2009 by dessirajino

yup … bukan sebentar memang. mem’bentuk’ karakter seseorang … tentu waktu menjadi relatif.  satu detik, satu jam, satu hari, satu tahun, satu abad … apa yang sudah kita alami sehingga karakter semakin mewujud ?

di saat usia mencapai angka 40+ ..

secara anak2 sudah mulai besar dan mandiri, ngg mau lagi dijagai-in mama-papanya ..

dimana karir sudah mencapai level ‘mapan’, baik yang jadi kuli maupun yang punya usaha sendiri ..

istilah ABG -angkatan babe gue- sudah bisa dilabelkan di dahi, dimana dulu kita melihat para om dan tante selevel orangtua kita … ternyata sekarang pun sudah menerima panggilan yang sama oleh teman2 anak2 kita ..

secara asal-asalan, kusimpulkan bahwa begitu mencapai usia tertentu dimana karakter sudah semakin ‘jadi’, tentunya seseorang menjadi sulit sekali -bisa memang terlalu ‘kuat’nya karakter terbentuk, atau memang karena tidak ada niat- untuk menyesuaikan diri. kita cenderung berharap lingkungan sekitar yang ‘berubah’ atau menyesuaikan diri demi kita.

bicara usia … “masa’ sih yang lebih tua yang harus berubah demi yang lebih muda?”

bicara karir … “duh … kita kan udah level sekian, everybody have to adjust for me .. not me for them, of course”

bicara senioritas … “waktunya anak-anak ikut sama maunya orangtua dong, ah .. yang bener aja, kok kita yang ngikutin keinginan anak-anak sih”.

banyak alasan, banyak pertimbangan … kuncinya cuma satu, terlalu nyaman dengan apa yang sudah jadi pakemnya sehari-hari. dan kecenderungan untuk terbiasa memiliki power dan gengsi ‘tertentu’ … satu hal lagi, malas tentunya. kalau meminjam istilah anakku, turun deh dewa kemalasan menaungi ;-) .

seringkali masih suka heran kalau melihat beberapa orang yang -mungkin tidak mau- berusaha memahami lingkungannya, tuntutan akan perubahan lebih diharapkan terjadi pada lingkungannya dan bukan pada dirinya. seolah-olah nyaman duduk di singgasana sambil tinggal menunjuk, maka akan ada yang melayani [.. ups enak juga yah? mauuuu dooong .. xixixixi], even do that to their friends … uuh mein Gott.

sebenarnya sih, bukan cuma soal usia. tapi terlalu lama ada pada posisi ‘memerintah’ tentunya berpengaruh terhadap interaksi kita dengan pihak lain. teringat waktu masih nguli di satu developer nasional papan atas kira-kira 10 tahun yang lalu. berhubungan dengan vendor, supplier, desainer … menjadi terbiasa dilayani, secara mereka ada pada pihak yang butuh order dari kami. tinggal angkat telepon, minta ini itu, perintah ini itu … jreng … fully top service, mantabs! perubahannya terasa sesudah akhirnya harus berusaha sendiri tanpa backup sebuah institusi. angkat telepon … masih harus melalui ritual tertentu terlebih dahulu. syukur2 kalau langsung dipahami kebutuhannya, tapi seringkali pertanyaan balik “huh, who???” muncul pada saat kita memperkenalkan diri. sedikit gengsi masa lalu dan ke-pede-an sih seringkali muncul … sikap mbung eleh kadang cukup membantu memantapkan ‘posisi’.

positifnya, aku banyak belajar … betapa berbeda berada pada putaran roda teratas dan di paling bawah. setiap putaran menuntun kita untuk  semakin membuka mata. pada saat putaran roda ada di tingkat paling rendah, asal kita mau membuka mata dan hati, banyak hal-hal sepele membuat kita bisa belajar berbesar hati, belajar menjadi ‘besar’ dari hal-hal kecil. banyak peristiwa membuat kita semakin mensyukuri apa yang kita terima -baik atau buruk, banyak atau sedikit- karena biar bagaimana pun, kita masih diberi kesempatan menikmati apa yang kita usahakan.

konteks pertemanan sebaiknya dipahami sebagai bentuk kesetaraan. apapun situasinya, bahkan bagi teman yang juga menjadi bawahannya, pada saat kita berbicara sebagai ‘teman’ … maka kita adalah setara. anggaplah perintah sebagai permintaan tolong, honor sebagai perhatian, dilayani membutuhkan konsekuensi melayani pula, ingin diperhatikan menuntut perhatian vice versa. intinya, semua mengacu kepada asas kebersamaan.

so .. dear friends, be BFF … best friend forever!

my favorite mistake

Posted in 1 on July 8, 2009 by dessirajino

tough girl, sheryl ….

time to let them go …

Posted in Artikel on June 29, 2009 by dessirajino

29 Juni 2009 ; 02.15

nggak tahu ada angin apa nih malam2 … mendadak ada perasaan kosong sejenak. [mungkin lagi kangen aja sama krucil berdua yang lagi liburan di rumah budenya .. udah 4 hari, but not even once make a phone call]

teringat -setidak2nya- 14 tahun lalu … pertama kali ada bayi dalam gendongan. ups .. jangan salah, aku bukannya orang yang sentimentil, juga bukan orang yang mudah terpesona oleh hal-hal seperti “woooww .. it’s amazing to have something so fragile, tiny, etc .. “. buatku, sesuatu yang berupa proses adalah hal yang relatif  ’biasa’ dan yaa .. begitu lah, alami seolah2 memang seharusnya begitu. memang aku agak lemot sedikit .. hehe.  dan tentu bukan karena aku tidak mensyukuri apa yang kualami .. nope, bukan itu maksudku.

so … having my baby boy, and a baby girl 20 months after … semuanya berjalan seperti keluarga biasa lainnya [ups .. ada yang tidak biasa kah?]. menjadi besar, belajar merangkak, berjalan, bicara, mulai bawel [.. tee hee hee ..], bersekolah …

hari pertama bersekolah dengan segala kehebohannya .. berlanjut terus hingga kini. bukan saja hari pertama sekolah, tapi juga hari terakhir. lebih tepatnya, hari bagi raport …  :-). dan selalu aku memberikan ‘warning‘ yang sama setiap awal tahun :

pokoknya, aku ngg mau lho deg-degan lagi akhir tahun nanti. belajar yang benar supaya akhir tahun ngg keteteran .. blablablabla.

tapi selalu perasaan itu muncul setiap menjelang akhir tahun ajaran. halah … dan lagi-lagi pikiran itu selalu datang, kenapa sih mereka tidak seperti aku waktu dulu .. begini, begitu, beginu, begono. gubrakk! hah .. lagi2 masalah ukuran. selama 10 tahun berkutat dengan proses pengembangan intelejensi lewat jalur formal rasanya tak pernah absen kupakai ukuran diri sendiri. salah kah ? barangkali … dan tahu nggak, kita sebagai orangtua cenderung selalu menganggap anak-anak kita selalu menjadi anak kecil, our baby, fragile, unprotective

‘proses sehari-hari sebagai sesuatu hal yang biasa’-ku mendadak bertemu tembok.  secuek2nya aku, tak ada perasaan lebih sedih daripada ditolak anak sendiri. serius !! bayangkan, manakala my grown up boy tiba2 tidak mau terlihat berjalan bersamaku lagi. the mommy suddenly become the mummy … OMG.

mama, sana dong !

jalannya jauhan dikit dari aku. malu kan kalau ketahuan aku jalan bareng mama …

hehehe … gara-gara kejadian itu, barudakusadar [seperti yang biasa diceletukin teman2 kuliah dulu *barudak ku sadar atau baru daku sadar yah?*] …  lama2 aku belajar juga untuk membiarkan mereka berkembang dengan caranya sendiri, apapun hasilnya, yang penting itu semua karena usaha mereka sendiri. toh kalaupun pada prosesnya mereka menemui masalah, akan kembali pada kita orangtuanya sebagai tempat bertanya. thank God they still do that

dua anak, dua pribadi … aku selalu heran kalau tahu bahwa ada orangtua yang tidak  ’kenal’ anaknya sendiri. memang betul … semakin bertumbuh besar, tentu kita tidak bisa menjadi polisi terus bagi mereka. tapi bahasa hati dan jiwa kugambarkan seolah-olah teleport, tenaga telekinesis tak terlihat namun seperti berbicara dengan bahasa yang sama, seperti mengaca dan melihat pada diri sendiri.

dan lagi2 tak pernah bosan … aku selalu ingat petuah bijak sang pujangga,

On Children

Kahlil Gibran

Your children are not your children.

They are the sons and daughters of Life’s longing for itself.
They come through you but not from you,
And though they are with you yet they belong not to you.

You may give them your love but not your thoughts,
For they have their own thoughts.
You may house their bodies but not their souls,
For their souls dwell in the house of tomorrow,
which you cannot visit, not even in your dreams.
You may strive to be like them,
but seek not to make them like you.
For life goes not backward nor tarries with yesterday.

You are the bows from which your children
as living arrows are sent forth.
The archer sees the mark upon the path of the infinite,
and He bends you with His might
that His arrows may go swift and far.
Let our bending in the archer’s hand be for gladness;
For even as He loves the arrow that flies,
so He loves also the bow that is stable.

you go on, my little angels … the world’s wide open for you

When things are falling on my lap …

Posted in 1 on June 4, 2009 by dessirajino

Sharing my youngest sister’s thought … just to remind us that we are nothing. Thanks a lot, Ade … love you, sis.

When things are falling on my lap…

Pernah kan ngerasa seperti itu? Ngerasa seperti banyak berkat dan juga banyak hal yang datang secara bersamaan, perlu dipikirin, diputusin, atau dicari jalan keluar secepat-cepatnya… padahal daya tampung otak nih terbatas banget dan waktu juga terbatas. Karena otak gak bisa di-upgrade dan waktu dalam sehari juga gak bisa di-extend, setelah “struggling” untuk mikirin semua pada saat yang bersamaan, akhirnya gue mesti menyerah… menghela napas… dan organize my thoughts… sebisa mungkin. That’s my nature, sebelum akhirnya gue sadar kalo one big piece is missing… asking my Father what He really wants me to do! It’s THE piece and a HUGE one! Kali-kali kalo “Bapak” yang di atas itu bisa getok kepala gue, udah digetokNya kepala gue ini karena gak sadar-sadar, hehehe.

Beberapa waktu ada orang yang kasih tau gue tentang doa ini… doa yang udah berkali-kali ngingetin gue kalo gue ini nothing without Him, walaupun gak pernah bener-bener inget semua isinya:

Litany of Humility

O Jesus! meek and humble of heart, hear me.

From the desire of being esteemed… from the desire of being loved… from the desire of being extolled… from the desire of being honored… from the desire of being praised… from the desire of being preferred to others… from the desire of being consulted… from the desire of being approved… from the fear of being humiliated… from the fear of being despised… from the fear of suffering rebukes… from the fear of being calumniated… from the fear of being forgotten… from the fear of being ridiculed… from the fear of being wronged… from the fear of being suspected… Deliver me, Jesus. That others may be loved more than I… that others may be esteemed more than I… that, in the opinion of the world, others may increase and I may decrease… that others may be chosen and I set aside… that others may be praised and I unnoticed… that others may be preferred to me in everything… that others may become holier than I, provided that I may become as holy as I should… Jesus, grant me the grace to desire it.

– Rafael Cardinal Merry del Val -

I’m not your superwoman, baby …

Posted in 1 with tags on June 1, 2009 by dessirajino

she sang better than karyn white …

 

Early in the morning, I put breakfast at your table
And make sure that your coffee has its sugar and cream

Your eggs are over easy, Your toast done lightly
All that’s missing is your morning kiss that used to greet me

Now you say the juice is sour, it used to be so sweet
And I can’t help but to wonder if you’re talking ’bout me

We don’t talk the way we used to talk, it’s hurtin’ so deep
I’ve got my pride, I will not cry but it’s makin’ me weak

I’m not your superwoman
I’m not the kind of girl that you can let down
And think that everything’s okay
Boy, I am only human
This girl needs more than occasional
Hugs as a token of love from you to me, ooh, baby

I fought my way through the rush hour, trying to make it home just for you
I want to make sure that your dinner will be waiting for you

But when you get there you just tell me, you’re not hungry at all
You said you’d rather read the paper and you don’t want to talk

You like to think that I’m just crazy, when I say that you changed
I’m convinced I know the problem , you don’t love me the same

You’re just going through the motions, and you’re not being fair
I’ve got my pride, I will not cry … Still I can’t help but care

I’m not your superwoman (Oh, no, no)
I’m not the kind of girl that you can let down
And think that everything’s okay
Boy, I am only human (I’m only human)
This girl needs more than occasional
Hugs as a token of love from you to me

I’m not your superwoman (Hoo, hoo, hoo, ooh, ooh, hoo)
I’m not the kind of girl that you can let down (Hey)
And think that everything’s okay (Don’t let me down, don’t you let me down)
Boy, I am only human (I’m only human, yeah)
This girl needs more than occasional
Hugs as a token (Ooh, ooh) of love from you to me

Oh, baby, look into the corners of your mind
I’ll always be there for you through good and bad times
But I can’t be that superwoman that you want me to be
I’ll give my everlasting love if you’ll return love to me

I’m not your superwoman (Oh, no, oh, no)
I’m not the kind of girl that you can let down
And think that everything’s okay
Boy, I am only human (I’m only human)
This girl needs more than occasional
Hugs as a token of love from you to me (Oh, no)

If you feel it in your heart
And you understand me
Stop right where you are
Everybody sing along with me

Hoo, hoo, hoo, ooh, ooh, hoo
Hoo, hoo, hoo, ooh, ooh, hoo
I’m the kind of girl that can treat you so sweet
But you got to realize that you got to be sweeter to me, oh, ho, ho

Hoo, hoo, hoo, ooh, ooh, hoo
Hoo, hoo, hoo, ooh, ooh, hoo
I need love
I need just your love

I’m not your superwoman (Oh, no)
I’m not the kind of girl that you can let down (You can let down)
And think that everything’s okay
Boy, I am only human (I’m only human)
This girl needs more than occasional (Hey, hey, hey, hey)
Hugs as a token of love from you to me

I’m not your superwoman

 

 

 

 

 

the power of ‘ngobrol2′

Posted in Artikel on May 26, 2009 by dessirajino

ngobrol …

nge-gosip …

chitchat-ing …

‘curhat’ …

diskusi …

apapun istilahnya. mengobrol adalah kegiatan yang dilakukan oleh dua atau lebih orang. jelas, bukan? kalau satu orang, tentu bukan mengobrol namanya.

perlu kah ? tergantung. penting ? bisa ya, bisa tidak.  semua tergantung kepada intensi, niat dan situasi, serta pelakunya.

kalau terlihat perempuan bergerombol saling mengobrol, maka umumnya -mohon maaf- dikatakan “itu lho, kelompok ibu2 sedang bergosip”, terlepas benar atau tidak. kalau laki-laki yang melakukan kegiatan yang sama, tentu istilahnya adalah “kelompok bapak2 bertukar-pikiran”, padahal kemungkinan bahan diskusinya adalah kelompok lainnya *ups … maaf, mungkin salah, kok jadi diskriminatif yah? hihi ..  skip .. skip ..*.

tadi kukatakan dua hal … perlu dan penting, karena menurutku, setiap aktivitas mengobrol -apapun bentuknya- memiliki kekuatannya masing2.

terkadang -atau bahkan seringkali- ngobrol itu dibutuhkan. bersosialisasi, sekadar sopan santun, menunjukkan perhatian, memperoleh informasi, bahkan mempengaruhi dan persuasi bisa dilakukan melalui ’sekadar mengobroll’.  semuanya tergantung kepada kualitas obrolannya. dalam konteks niat atau intensi, seberapa berkualitasnya kah materi obrolan bisa berpengaruh bagi pelakunya maupun pihak lain ? dalam konteks pelaku, sejauh apakah materi obrolan bisa menunjukkan karakter individunya ?

teringat salah satu teman pernah bercerita betapa hasil pembicaraan dari mulut-ke-mulut memberikan dampak yang besar bagi kelangsungan hubungan orangtua murid dan guru dalam lingkungan suatu sekolah, teringat pula hasil akhir yang berbeda dari materi yang sama pada saat obrolan beralih dari satu kelompok ke kelompok yang lain [... hmmm, rapat para ibu ortu murid di sekolah memang 'beda' yah ?!].

kenapa ya … yang terlintas dalam imajinasiku adalah kumpulan huruf berlompatan dalam awan obrolan dari satu grup pindah ke grup lainnya melalui tiupan angin … hihihi … jadi ingat juga permainan kata yang disampaikan berantai dari ujung satu ke ujung lainnya pada saat latihan pramuka di SMP dulu. betapa satu kalimat bisa berubah total, baik susunan maupun maknanya.

seberapa besar kekuatan obrolan ? kembali kepada kita sebagai pelaku. mau dibawa kemana kah arah pembicaraan ? merugikan atau menguntungkan … mau pilih yang mana ? orang bijak taat pajak …*ups salah* … orang bijak akan tanggap memanfaatkan kekuatan obrolan.

mungkin dengan ketenangan, kita bisa menjadi salah satu dari sang bijak.

selamat pagi …

Posted in Artikel on May 25, 2009 by dessirajino

katakan apa yang seharusnya dikatakan, jangan katakan apa yang ingin mereka dengar …

karena kalau ya, maka yang terucapkan adalah sesuatu yang bukan keluar dari hati …

apa yang dirasakan oleh hati memang tidak mesti disampaikan dalam sebuah kata. namun, apa yang bisa menggambarkan perasaan, apabila tidak ada bentuk lain selain kata ?

terima kasih, sekedar sapa, rasa sayang, bahkan amarah dan benci ..

kadang perlu disampaikan hanya agar orang lain tahu apa yang kita rasakan. memberikan kebahagiaan [ups .. kuharap bukan kesedihan apabila yang terucap adalah amarah] atau kelegaan bagi orang lain melalui kata-kata, tentu bukan sesuatu yang sulit diperoleh ? harus bayar kah ? atau harus susah payah memetiknya di atas pohon yang tinggi ?

mungkin tidak ada salahnya sekali dua kali dilakukan, tak perlu sering daripada menjadi basi. seperti halnya ucapan sederhana selamat pagi, tentu akan dibalas spontan selamat pagi .. no offense, no pressure … just say it. kita tidak tahu sapaan sederhana bisa memberikan efek yang luarbiasa bagi orang lain. atau mungkin kita lebih memilih membiarkan suatu sapaan tanpa balasan ? seperti menepuk nyamuk hanya dengan satu tangan …

guess i’m not asking for an impossible thing … only a reply for an expression, just as before.  i don’t mind knocking, but please don’t ignore it. because everytime i knocked, i always think  about any circumstances related …

Haleluya … Kristus sudah bangkit !!!

Posted in Artikel with tags , , on April 12, 2009 by dessirajino

Selamat Paskah buat kita semua !

Bukan ingin menyusun renungan [halah, ampuuuun, romo Sudri ... *jadi malu*], tapi suasana Paskah selalu membawaku flashback-ing.

Karena bapak ibuku sedari dulu banyak beraktivitas menggereja -istilahnya aktivis gereja lah- maka tak heran aku dan saudara2ku terbiasa dengan kehidupan di seputaran area itu pula, selain kamipun beraktivitas sesuai dengan usia kami … padus anak, misdinar, mudika. Hal biasa bagi kami, keluar masuk ruang-ruang gereja hingga sakristi, gedung pastoran, seminari dsb. 

Aku ingat pada saat usiaku kira-kira 11-13 tahun, ibu -seperti biasa- muncul dengan ide menghidupkan peran umat dalam kegiatan liturgis. Saat itu ibu membentuk kelompok tari dan gending Jawa yang mengambil peran dalam prosesi persembahan di perayaan ekaristi pada hampir setiap hari raya. Anggota pertama kelompok adalah , tentunya tak lain dan tak bukan, anak-anaknya sendiri. Buat yang mengenalku saat ini tentunya tak bisa membayangkan aku menari Jawa, lemah gemulai …. OMG [hahahahaha *jadi tambah malu* ... skip ... skip !].  

Pada waktu itu sih, rasanya sebal sekali. Aku merasa ‘agak’ terpaksa mengikuti program ibuku, walaupun rasanya tak tega juga menolak. Kenyataannya, pada saat aku sudah mampu menyuarakan kehendakku, aku memilih untuk mengikuti kata hatiku berurusan dengan camping, pramuka, naik gunung, dan semua hal yang samasekali tak berurusan dengan kegemulaian. Tentu bukannya berniat memberontak, namun lebih tepatnya, aku berusaha menjalani kegemaranku, pilihanku sendiri. Dan, percaya atau tidak, kemampuan menariku hilang begitu saja. Tak perlu memintaku melakukan kembali gerakan itu, melakukan  gerak tari modern macam berdisko saja, rasanya aku tak sanggup [hahahahaha ... tiap2 kali mencoba, selalu saja ada perasaan : ugh, kenapa aneh begini ya ?!].

Dulu, setiap selesai misa dengan Bapa Uskup, aku selalu senang meledek beliau,

Monsinyur itu hebat yah .. ngg pernah cape. Dari jam berapa ya masangin kancing jubah? Kok banyak banget kancingnya, dari atas sampe bawah?

Teringat juga suatu masa dimana kami, aku dan saudara2ku, harus mengantarkan rantang lauk untuk Keuskupan. Karena rumah Bapa Uskup ada di lingkungan tempat tinggal kami, maka tugas Lingkungan kami lah (Wilayah, Lingkungan, Kring adalah istilah pembagian kelompok -sesuai lokasi tempat tinggal- yang ada di dalam paroki) secara bergantian memasak untuk rumah Uskup beserta para Pastor. Terkadang suka jengkel, kenapa potongan ayam yang terbaik selalu dimasukkan ke dalam rantang itu, dan bukannya ada di atas meja makan di rumah ? 

Urusan tagih menagih uang iuran lingkungan pun tak luput menjadi tugas kami. Ibu memang tak hentinya memberdayakan anak2nya yang berjumlah 6. Bayangkan … dimana lagi bisa memperoleh pasukan sukarela sejumlah setengah lusin yang siap membantu -walaupun sedikit mengomel tak apalah mungkin dipikirnya- … hahahaha.

 

 

 

'pasukan kecil'nya Ibu-ku [tampang badung dan tampang 'seolah2 manis']

pasukan kecil-nya Ibuku (tampang badung dan tampang seolah2 manis)

 

 

Sekarang hal-hal kecil semacam itu menjadi satu kerinduan. Bukan pada kegiatannya secara spesifik, namun pada konsep berkegiatannya … untuk siapa, untuk apa, mengapa kita melakukan. Ternyata, melalui ‘paksaan’ kecil semacam itu lah, kami diperkenalkan pada kegiatan melayani. Bukan untuk kepentingan sendiri, namun bagaimana kita mengutamakan orang lain di atas kepentingan kita sendiri. Kepuasannya terletak pada usaha membuat orang lain senang, terutama kepuasan apabila kita bisa membantu dimana tidak ada orang lain yang mau -bahkan mampu- mengambil peran tersebut.

Sesudah menikah, pengalaman tersebut seolah2 ‘menghilang’ karena satu dan lain hal, namun ternyata, sekali aktivis tetap aktivis [hahahaha ... sok tau nih]. Kuakui, belum mampu aku bersaing dengan figur ibuku dahulu, namun aku yakin, setiap orang dianugerahi talentanya masing-masing. Satu keping, 5 keping, ataupun 10 keping tak menjadi masalah, sepanjang masing-masing kita bisa dan -utamanya- mau melipatgandakannya.

Kristus mau mati dan bangkit demi kita. Masa’ kita diam aja ? Jangan kubur dalam2 talenta kita, tapi tumbuh-kembangkan, mestinya kita juga mau dong bangkit bersama Dia … yuuuk mareee ! 

Sekali lagi …  Selamat Paskah, teman !

being addicted …

Posted in Artikel with tags , , , , , on April 4, 2009 by dessirajino

Pfiuh … howdy, my dashboard … long time no see [keasikan facebook-ing, sorry ya mengabaikanmu untuk waktu yang lama].

Hmmm … facebook, fun – yet annoying …

Mengalami periode being addicted to facebook, heu’euh bangetttt…. Tapi cepat atau lambat, tentunya [kuharap] kesenangan itu toh akan luntur juga, berpikir bahwa f/b bukan soulmate kita, atau pasangan hidup kita … yang semestinya rasa suka dan sayang harus terus diperbarui dan dipupuk terus menerus. 

Ada suara di dalam kepala yang teriak : Hey … wake up ! That ‘beungeut buku’ is not your soulmate, darling … [hahahaha]. Video “Ibu  & Facebook” – Serafina Ophelia berkali-kali mampir di inbox-ku, baik inbox f/b maupun milis, dari terbahak2 menertawakan diri sendiri hingga bosan aku melihatnya.

Okay … itu tadi gambaran totalnya.

Di luar itu, selain surat menohok dari anak gadisku :

… Aku berharap, mama nggak sering2 online biar aku punya banyak waktu untuk ngobrol bareng …

tentunya tidak bisa dipungkiri juga bahwa kita belajar banyak dari situs jejaring sosial ini, terutama bagaimana kita berinteraksi dengan lingkungan tanpa batas, atau dengan kata lain batas virtual tak-hingga dimana waktu, jarak dan fisik tidak menjadi masalah. Sebenarnya bukan hanya situs ini saja yang memungkinkan hal tersebut, tentunya sangat banyak yang lainnya. Secara khusus aku menyebutkan facebook, karena facebook adalah fenomena, bahan pembicaraan tak henti yang terjadi hampir di setiap pertemuan.

Di luar hal itu, sekali lagi, ternyata kita belajar banyak bagaimana memperlakukan orang lain … teman lama, teman baru, suami, istri, anak, kakak atau adik, bahkan orangtua kita. Bagaimana kita bertanggungjawab terhadap tindakan yang kita lakukan. Setiap kali kita memencet tombol ‘Enter’, ‘Post’, ‘Share’ bisa berarti banyak ataupun sama sekali meaningless buat pihak lainnya. Apakah ‘Confirm’ cukup punya arti tertentu, ataukah semudah itu ‘Ignore’-ing dilakukan. 

Being public atau private, sharing informasi, memilih apakah satu isu diberikan melalui private message atau ditulis di wall dan/atau status, yang notabene bersifat ‘public’, menuntut tanggungjawab tersendiri.  Dampak dari materi itu sendiri seyogyanya disadari dengan penuh rasa tanggungjawab, minimal oleh yang menuliskan. Bahwa di kemudian hari akan berdampak lain bagi orang lainnya, hal itu pun semestinya disadari.

Sebenarnya, ini semua menjadi gambaran dari kehidupan yang kita jalani sehari-hari [... deuuh, kejauhan nggak yah?!]. Bagaimana kita bertanggungjawab atas apa yang kita lakukan, bagaimana kita memperlakukan orang -dalam hal ini yang terbatas secara fisik, jarak dan waktu- yang berhubungan dengan kita. 

Kita bisa saja beralasan,

Halaah … belum tentu juga ketemu sama kenalan virtual kita, jadi sah2 aja lah kalau kita pengen iseng. We’re just having fun geto looooh … nothing to do with their feelings.  Gitu aja ribet banget  !

Yup … i’ve been through all those things. And i bet you all did … 

Bukan saja sebagai pelaku, tapi juga sebagai yang diperlakukan demikian. Terus terang, aku pun berkali2 menjadi sang pelaku. Being mean to someone else … dan membuatku merasa bersalah berkali-kali, sejujurnya ! Menjadi orang yang diperlakukan demikian, tentunya membuatku merasa ‘putting in another person’s shoes’. And … it’s so damned uncomfortable !

So, kuharap itu tidak merepresentasikan tindakanku sehari-hari. Aku adalah aku, virtually or reality ! 

Kesimpulan, being addicted to something … bikin capee deeeh. ;-)

Reuni

Posted in 1, Artikel with tags , , on January 31, 2009 by dessirajino

Reuni …
Reuni karena facebook
Reuni a la facebook
Hahaha, betul …  akhir2 ini banyak sekali kudengar :

Thanks to facebook, aku ketemu lagi teman2 lamaku …

Duh, asik banget bisa ketemu my long lost friend di facebook

Seminggu yang lalu, hasil dari temu facebook juga lah, suamiku kumpul2 reuni-an dengan teman2 SMA-nya yang kebetulan laki-laki semua. Pulang kumpul2, dia cerita bahwa selain kelompoknya, ada pula kelompok reuni-an lain yang duduk di sebelahnya. Hahaha … baik betul ya Mr. Zuckerberg, berhasil menyatukan orang dalam waktu yang relatif singkat.

Ok, cukup sudah dengan sang facebook

Bicara mengenai reuni, aku selalu teringat film “Romy & Michelle’s High School Reunion”. Betapa banyak hal yang membuat orang bersiap diri menghadapi satu event ‘reuni’ … hihihi (btw, lucu banget deh Mira Sorvino & Lisa Kudrow).

Seperti juga di milis teman2 SMAku yang lumayan meriah oleh komentar ‘after reunion‘, pembicaraan berkisar antara gosip lama dan baru, si anu jadi beda ya, si inu gemuk banget sekarang, pak guru x dulu begini sekarang begitu, si y dulu gebleg eh ternyata sekarang bisa jadi milyarder lho. Pun berbagai motivasi orang ingin datang bereuni, semisal ingin ketemu lagi ‘pacar’ lama, ingin terlihat sukses, atau alasan sederhana ..  kangen dengan suasana masa lalu.

Sebenarnya, kalau kulihat, apapun motivasi maupun hasil dari temu kangen itu sendiri, positif maupun negatif … kita memang membutuhkan suasana kembali ke masalalu. Teringat tulisanku beberapa waktu lalu, melalui perjalanan kembali itulah kita serasa disegarkan kembali, serasa melakukan napaktilas perjalanan hidup. Sebaik atau seburuk apapun jalan yang kita pilih hingga titik dimana kita berada sekarang, masalalu adalah bagian dari kita berproses. Suka atau tidak, itulah yang membentuk diri kita.

Menjalani kembali napaktilas hidup kita, terkadang timbul pertanyaan .. kenapa ya dulu aku nggak begini atau begitu, atau semestinya aku dulu beginu atau begono. Penyesalan, apapun bentuknya itu, adalah bagian dari karakter ke-manusia-an kita, namun pernahkah terpikir apabila ternyata jalan yang kita tempuh lain daripada yang kita jalani sekarang ? Kembali ke pertanyaan tadi, so .. apakah kita menyesal dengan hidup yang kita jalani saat ini ? Hmmm .. hopefully not, because we should be very grateful of what we have right now.  Otherwise, you may have nothing at all.

Well .. aku sih senaaaang sekali bisa bertemu banyak teman lagi sesudah sekian lama (uih .. 23 tahun lalu, hampir 1/4 abad). Kenangan lama tentu tak akan hilang, bahkan bisa jadi doping buat kehidupanku selanjutnya. Seringkali masih kutemui teman yang terkadang membuatku terpana dengan pernyataan

Duh, reuni ya, Des ? Malu ah ketemu teman2 semua yang udah pada sukses. Gue kan masih ‘begini-begini’ aja …

Sayang sekali ya … mereka kehilangan kesempatan mengenal kembali dirinya sendiri, karena melalui masalalu dan teman masa kecil kita .. disitulah kehidupan sebenarnya.

Tapi jangan lupa untuk kembali kepada tempat dimana kita berada sekarang. Mungkin sudah waktunya pula kita membiarkan semua peristiwa itu tersimpan rapi seperti bundel CD Our Sweetest Golden Memories, dan bisa mengatakan “selamat tinggal kenangan indah …. sorry, aku harus kembali kepada hidupku saat ini”.