Ephiphany Window at Church of Imaculate Heart of Mary, Parish of Drumbo & Carryduff, Belfast, Ireland

Epifani, dari bahasa Yunani Koine yang berarti “Manifestasi” atau “Kemunculan” atau “Penampilan” adalah sebuah hari raya keagamaan Kristen pada tanggal 6 Januari yang merayakan Wahyu Allah sebagai manusia yaitu Yesus Kristus atau pemunculan/manifestasi Yesus Kristus terhadap Dunia. Dalam Gereja Barat maupun Timur memiliki pemahaman yang sama mengenai Epifani ini yaitu Manifestasi Yesus Kristus akan dunia namun menghayati peristiwa yang berbeda. Dalam Gereja barat epifani untuk memperingati kedatangan Tiga Orang Majus atau kadangkala disebut Tiga Raja, yang mengunjungi Yesus yang baru saja lahir, yang menunjukan Manifestasi Bayi Yesus Kristus terhadap orang bangsa lain (dunia) sebagai Anak Allah. Namun dalam Gereja Timur untuk memperingati pembaptisan Yesus Kristus oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan, yang menunjukkan Manifestasi Yesus Kristus memulai karya pelayanannya sebagai Anak Allah atau sering pula disebut Teofani.

Dalam Gereja Timur Epifani juga sebagi puncak perayaan masa Natal atau perayaan Kelahiran Yesus Kristus mulai dari 25 Desember – 5 Januari. Sumber bacaan : Berita Paroki St. Anna Duren Sawit 2 Januari 2011.


Kotbah-nya Romo Sudri tadi pagi bikin gw ‘bangun’, padahal tadinya udh rencana pengen merem bentar, secara ngerasa belum puas nempel bantal [hlaaa .. kenapa juga ikutan misa pagi atuh ?!]. Yang bikin bangun bukan karena pernyataan Romo soal ketergantungan kita terhadap teknologi, atau, sebaliknya hidup kita saat ini sebagian besar sudah ‘diatur’ oleh teknologi; hihihi .. itu mah introduksinya aja. Tapi, lebih kepada pertanyaannya : bagaimana sih ‘penampakan’ itu menjadi ‘nampak’ bagi kita ? Emang kenapa sih kok tiga orang Sang Raja dari Timur atau disebut juga Orang Majus, atau ada juga yang bilang Sarjana dari Timur bisa melihat Bintang Penunjuk Arah sedangkan orang lain tidak [apalagi Herodes yaa boooook ?!] ?

Lanjutnya, apabila kita mau [bukan sekedar bisa] mengadakan perubahan radikal di dalam hidup kita, di dalam diri kita, semestinya kita juga mampu melihat apa yang semula ‘seolah2′ tak nampak menjadi nampak. Merubah diri kita secara total, cara berpikir, bertindak, bereaksi terhadap lingkungan  … akan membuat kita menampak Bayi Yesus, melihat jalan keselamatan kita sendiri.

Tiba2 gw jadi nyambung sama -lagi2- The Alchemist-nya Paulo Coelho. Mengejar ‘mimpi’ ke penjuru dunia, ternyata adanya di halaman rumah sendiri. Atau,  kata2 bijak dalam Harta Dalam Dapur Sendiri dari Doa Sang Katak 2, tulisan salah satu Jesuit favoritku, Anthony de Mello.

Mengapa tak nampak ? Sebabnya bisa banyak. Tapi yang paling penting, sebab utamanya ada di dalam diri sendiri. Kita tidak pernah melatih diri untuk berani keluar dari kotak, terbiasa menjadi katak di dalam tempurung. Bukannya tidak bisa … tapi tidak mau !

Satu lagi alasan paling pol untuk ketidakinginan-berubah-secara-radikal ini adalah : “abis gimana yaaa, udh PEWE neh”. Hihihi … paan tuh pewe ?  Pewe tuh “posisi wenaak” alias udah males bergerak, males pindah, males bergeser, males berubah .. itu poin-nya. Kita sudah merasa bangku kita duduk saat ini udah ‘nyaman’, dalam arti sudah mencapai ‘comfort zone’, apapun definisi dari comfort itu sendiri. Kenapa aku bilang demikian ? Karena ukuran kenyamanan itu relatif. Nyaman karena tidak kepikiran bahwa ada nyaman yang ‘lain’ , atau nyaman yang cukup sampai disini saja (kita tidak mengenal kemampuan kita bisa mencapai lebih dari apa yang kita capai saat ini), atau bisa jadi -mungkin aku agak2 underestimate- memang nyaman yang kita capai saat ini sudah optimal, sesuai harapan/ekspektasi kita.

Sebetulnya, kalau tingkat kenyamanan yang ketiga sudah tercapai .. well .. what to discuss more ? Nothing !  Itu sudah merupakan pencapaian maksimum yang bisa diperoleh seseorang. Artinya … we did it, we did it … hurraaayy!  [kata Dora the Explorer]. Terkadang, kita berusaha meyakinkan diri kita sendiri bahwa apa yang kita peroleh saat ini sudah yg terbaik, namun, ada satu suara di dalam hati kecil kita yang selalu muncul : ini ngg bener nih, wah .. atau .. nih dia nih yang bikin gw males nih .. atau .. adddeeuuuuhh, masalah lagi deh .. atau .. duh, kok males ya.  Dan perasaan ini makin lama makin menggerogoti. Hmmm .. well .. if so, you know what i mean, right ?!

It’s time to take action to change ! So, be brave, be confident to do so ! Good luck !


salam damai -sign of peace-

Posted: August 15, 2010 in Artikel

Ngg tahu kenapa … aku selalu merasa, salah satu yang menjadi bagian paling baik bagiku dari ritual misa Katolik adalah saat ‘salam damai’ di antara umat dan petugas liturgi (di luar tiap momenyang sarat makna lho ya).  Momen beberapa menit itu merupakan hal paling berasa yang seolah2 bahkan bisa nabok kita -as a human-.

Apapun motivasi kita datang dan melakukan ritual rutin setiap minggu di gereja, ngg akan aku bahas sekarang kalee yah, apakah hanya sebagai prasyarat, pelengkap, pelepasan ritual harian, curcol mingguan .. apapun. kadang kita ngg bisa fokus, ngantuk (buat yang ikutan misa pagi2), keganggu -sengaja maupun tidak- dengan sesama umat yg duduk di kanan kiri depan belakang kita.  belum lagi kalau ‘gangguan’ datang dari anak-anak yang noisy and nosy-all-the-time, dari awal sampai akhir misa.

Dari proses pencarian melalui mbah Google, ada pendefinisian salam damai yang bikin senyum :

This meant that each and every person would be forced to acknowledge those sitting around them in the pews who were strangers and shake their hands. This greatly upset quite a bit of people who were used to going to church, giving their money, saying their prompted responses, getting communion and getting the heck out, at which time people would fight and curse each other in the parking lot during the mass exodus. Now we had to acknowledge strangers and shake their hands!

Nah, kenapa juga aku selalu merasa bagian ini adalah one of the best part of the ritual ? Kalau lihat sejarahnya, kebiasaan bersalaman dalam rangka menyebarkan pesan “damai” ini baru dipraktekkan sejak 1970an. Itu pun tidak dalam bentuk bersalaman, tapi penyampaian ungkapan “salam damai besertamu (may peace be with you)”  oleh pemimpin misa kepada umat. Di beberapa daerah pun, tradisi bersalaman tidak mesti dilakukan, semuanya itu sifatnya ‘pilihan’ (diluar berbagai kontroversi mengenai perlu/tidaknya ritual ini). Namun terkadang, tidak saja bersalaman, di banyak daerah pun penyampaiannya  juga dalam bentuk cium dan peluk.

OK, skip the part … spt juga di beberapa kaskus religius yang pro-kontranya cukup panjang, antara lain karena proses bersalaman yg terkadang diiringi lagu Salam Damai dinyanyikan penuh semangat oleh koor [*blaah .. kadang semangatnya keterlaluan sampai2 Agnus Dei hampir kelewat .. pliss deh .. seperlunya aja kaleee*] membuat jadi bertele-tele ngg penting.

courtesy of CNN via youtube

Jadi teringat waktu melihat siaran langsung misa pemakaman Paus Yohannes Paulus II di Vatican. Secara ini adalah once-a-lifetime event dengan berbagai muatan (sosial maupun politik), maka undangan juga top markotop, bukan ? Geli waktu ngeliatin pemimpin negara yang duduknya berdampingan, mengikuti upacara dengan muka full-jaim. Begitu salam damai dimulai, sempet lihat mukanya George W. Bush surprised bahwa ada acara salam-salaman, waktu Tony Blair dan Jacques Chirac otomatis tengok kanan kiri buat salam2 .. hehehe. Sesudah itu, malah dengan semangat dia salaman sama hampir semua pemimpin negara disitu (ya iya laaah .. barangkali dipikir, ntr ada yang ngambek kan kalau dia pilih kasih secara negara adidaya geto looh ?! wahahahaha, kebablasan, om .. jatahnya cuma 3 menit untuk  misa biasa, kalau misa buat Paus JPII boleh lah 5 menit).

52603240

Nah, disitulah aku merasakan, bahwa dalam kondisi apapun kita pada saat melakukan ritual mingguan ini, apakah sedih, senang, marah, bete, ngelamun, ngantuk … seolah2 dibangunkan sekejap pada saat harus melihat ke sekeliling kita. Yang tadinya bete sama pasangan di depan kita karena berisik melulu, kan pada akhirnya kita harus berpandangan menghadapi mereka. Pada saat itu semestinya kita bisa mengatasi persoalan apapun yang menyelimuti kita, untuk ‘sekadar’ tersenyum sekejap sambil bilang : Damai besertamu, saudara ! Terus terang, hal tsb. bisa menjadi satu bentuk healing process mengatasi emosi. For only 3 minutes …

Semestinya, sebelum hati dan pikiran kita siap menerima Tubuh dan Darah Kristus, kita pun sudah bisa berdamai dengan diri sendiri, dan dengan sesama kita. Wuih .. tambah maknyos dah penerimaan kita akan berkat melimpah Tubuh dan DarahNya. Apa tuh sebutannya … pasrah sempurna ?! [*halah*]

So … may peace be with you, brader !

hola .. again !

Posted: June 23, 2010 in Artikel

walah .. ternyata udah lama juga nih blog ngg ditengok2 dan dicolek2 yah. bener-bener keenakan facebook-ing, emang ngg sempet atau sok sibuk yah ? sama aja kayaknya … ujung2nya tetep blog-nya belom sempet ke-apdet lagi.

so many things to do within my past two months … halah, belagu pisan !

yang pasti, selama dua bulan terakhir ini, gw ketemu banyaaak orang dengan berbagai latarbelakang, online maupun offline. semuanya itu, tentunya, bikin gw belajar banyak. belajar juga dalam hal ‘menata diri’, gimana ngadep-in orang2 dengan berbagai karakter dari berbagai latarbelakang. kesimpulannya sih sebetulnya tetep … i’m still the best … halah, hahahahaha. nggk kok … sejujurnya, i feel that i’m way far far far from being perfect.

[bentar .. seteguk kopi dulu .. *glek* ... ehm, persiapan pengakuan dosa neh ... xixixixi]

i have a secret .. do you wanna know ? nope ? that’s ok … but i want to tell you anyway *keukeuh*.

gw paling sebel sama yang namanya iming-iming, proposition, penawaran, proposal, ajakan … apalah namanya, yang awalnya selalu bercerita mengenai target nominal yang bakal kita peroleh. UUD melulu … dari awal sampai akhir ! sebetulnya sih, kalau mau jujur, sapa seh yang ngg butuh duit ? hare gene ? ya iyaaaa laaah semua jg mao *gaya songong*.

to the point, gw sebetulnya ngg suka sama yang namanya MLM yang .. yaaa tadi itu. belum apa2 si calon upline udh cerita sana sini dengan modal kertas dan pensil (pake tissue makan juga OK aja), langsung bikin pohon target downline, lengkap dengan itung2an penghasilannya. kalau mau diikutin sih, OK2 aja juga. tapi ya .. sekali lagi .. pada saat kita dihadapkan pada pekerjaan sebagai sales produk MLM itu (ya apa namanya lagi kalau bukan sales ya .. lha jualan produk kok ya?! kalau memperbesar network mah, ngg usah MLM2an juga udah kita lakukan kok), kok ya jadi seolah2 target hidup kita ya ‘being a money-maker people‘.

well … i choose for being a rich person, not a money-maker person.rich‘ bisa berarti banyak … kaya pengetahuan, kaya kebaikan, kaya kepekaan, kaya ini, kaya itu, kaya b*d*t .. halah ..

kembali ke MLM, gw sih pada dasarnya ngg anti MLM kok, karena biar bagaimana pun, MLM itu kan ‘cuma’ sekadar metoda penjualan, cara memperbesar jaringan pemasaran. yang salah .. ya pemahaman dan cara penyampaiannya, mungkin lho yaaa *agak ragu walopun cuek*. dan sekarang pun, gw juga sedang menjalankan salah satunya. pada dasarnya, gw akan setuju untuk mengembangkan penjualan suatu produk kalau … pertama, gw suka dan cocok dengan produknya (ya iyaaa laaah .. kalau ngg suka dan ngg cocok, gimana juga jualannya). kedua, kalau gw suka dan cocok, otomatis minimal akan gw pakai buat diri gw sendiri kan ?! level kedua penggunaan adalah untuk keluarga gw. so …  ketiga adalah cocok juga dengan keluarga gw. baru deh .. sesudah itu, keempat-nya bisa menghasilkan uang juga buat diri gw dan keluarga.

ngg usah bicara pekerjaan MLMers, untuk pekerjaan kita sendiri pun demikian. kenapa gw bilang pekerjaan, soalnya kalau hobi dan menghasilkan uang  itu udh pasti T.O.P punya. udah kitanya hobi, menghasilkan uang pulak .. apa bukan super ajib tuh namanya ?! tapi kalau yang namanya pekerjaan, walopun pada awalnya tentu sudah sesuai dengan kualifikasi kita, namun pelaksanaannya kan kita akan tergantung sama orang lain. orang lain itu, artinya, rekan kerja, bos sampai bawahan kita. menghadapi pekerjaan, kadang kita dihadapkan pada kondisi ‘terpaksa’, akibat ‘under pressure‘. eh,sowwy … gw nggak akan bicara dunia kerja bekerja ya .. gw cuma pengen sharing how we handle things that connected to our needs and desires.

nah, bicara ‘needs‘ .. kembalinya sama dgn si MLMers tadi. sapa juga yang hare gene ngg butuh dokat or duit or money or picis. selama needs bisa terpenuhi, maka yang lain silakan minggir. artinya, kalau memang itu yang menjadi prioritas kita.  tapi bicara desires, passion, or what we wants .. dokat tadi itu bisa jadi nomor ke-sekian, asalkan kita selalu ‘happy’ and feel free to do it. betul nggak ?!

satu pengalaman gw dalam 2 bulan terakhir ini yaaaa .. itu tadi. ada satu peluang dimana secara kualifikasi gw ini sebetulnya bisa banget ngerjainnya, tapi semakin hari gw jalanin, kok ternyata gw dihadapkan pada kenyataan bahwa gw ini ngg bisa jadi orang kaya .. gw ngg bisa kaya raya, jo’ (btw, itu lho yang jadi iming2nya di awal proses perekrutan .. masih ditambah lagi bakal jalan2 ke sono ke sini ke sinu). gw sama sekali ngg happy ngerjainnya.  so i pulled out, and drop the opportunity. apa gw menyesal ? kok yang ada di dalam hati dan kepala malah ‘kelegaan’ ya .. dan bukannya penyesalan ? however … so what gitcuu loh ?! as long as i am happy and feel free, bukan kah ?

so .. what’s yours now ? needs or desires ? whatever the decision .. hope you’re feel free and be happy, too, doing that … ok ?! keep the spirits !

The Simple Things

Posted: February 8, 2010 in Musik

the simple things just are ..

Hey, time won’t wait
Life goes by
Every day’s a brand new sky
Every tear comes to dry
All that really matters in this crazy world
Is you and I together, baby just remember…

The first leaves of the tree,
The way you look at me,
A thousand chiming church bells ring
The simple things are free
The sun, the moon, the stars,
The beating of two hearts
How I love the simple things,
The simple things just are

So here we go
Let’s just dance
Teach my soul to take this chance
Put my heart in your hands
Out of all the moments that we leave behind
Turn around and tell me baby we’ll remember…

The thunder and the rain,
The way you say my name
After all the clouds go by the simple things remain
The sun, the moon, the stars,
The beating of two hearts
How I love the simple things,
The simple things just are

Oh, the ocean and the sky
The way we feel tonight
I know that it’s the love that brings the simple things to light
The sun, the moon, the stars,
The beating of two hearts
I love the way the simple things,
The simple things just are

from the Guru

Posted: January 15, 2010 in Quotes

Keep your thoughts positive because your thoughts become your words.
Keep your words positive because your words become your behaviors.
Keep your behaviors positive because your behaviors become your habits.
Keep your habits positive because your habits become your values.
Keep your values positive because your values become your destiny.

Mahatma Gandhi

about a name … lagi-lagi!

Posted: January 6, 2010 in Artikel

Sebetulnya udah lamaaa banget pengen nulis tentang topik ini … nama-name-nom-nombre-naam …

What’s in a name?

That which we call a rose,
By any other name would smell as sweet

[Shakespeare - "Romeo and Juliet"]

Blaaah, gaya banget lu, des. Shakespeare segala, jo’ …

Pertama, membaca tulisan teman di FB notes-nya [thanks, Dita Wibisono], yang bercerita tentang tren penggunaan nama sesuai jaman, lalu yang sebelumnya -ini yang menarik buatku- kecenderungan untuk kehilangan ‘nama’ kita sendiri.

Kedua, teringat duluuu .. aku selalu geli setiap kali melihat acara anak-anak “Si Unyil” -sekitar tahun 80-an. Pada saat itu, buatku adalah suatu keanehan bahwa ternyata sebutan untuk orangtua si Unyil adalah “pak dan bu Unyil”, orangtua Mei Lan adalah “pak dan bu Mei Lan”, demikian juga orangtua si Ucrit, Usro dll.

Waktu itu komentarku -sambil ngakak, tentunya- selalu :  ”Aneh amat, masa’ nama orangtuanya pakai nama anak sih? Emang ngg punya nama sendiri apa?”

Bertahun2 kemudian, sesudah kawin dan punya anak, ternyata sebutan ku pun berganti. Orang tidak lagi memanggilku dengan namaku sendiri, apalagi dalam lingkungan keluarga. Aku menjadi Mama Miko, nama anakku pertama. Kalau anak kita cukup banyak sih, wajar aja ya privilege itu diperoleh si sulung. Tapi sayang sekali karena aku cuma punya dua anak, maka kasihan sekali ya Renata, karena aku tidak menjadi Mama Renata. ;-)

Terus terang, aku sendiri tidak begitu ngeh dengan perubahan sebutan itu. Manalagi, pada saat itu aku masih bekerja, dan memiliki lingkungan sendiri yang tetap mengenalku sebagai ‘si Dessi’. Dan di keluarga Batak, nama istri -walaupun juga sudah memiliki sebutan- tetap eksis sebagai konsekuensi adat. Namun kemudian, sesudah tidak bekerja, lingkunganku pun menjadi agak terbatas pada kehidupan domestik. Pada saat kami pindah ke Bali dan berinteraksi dengan orang-orang ‘baru’, kembali sebutan ini agak membuatku risih. Rupanya di banyak daerah di Indonesia, dan itu pula yang dijadikan acuan pembuatan serial si Unyil, penyebutan dan pemberian gelar atasnama anak adalah umum, lumrah dan wajar.

Kupikir kemudian, seperti juga yang Dita tulis : walah, aku tidak menjadi si Dessi lagi dong ya? Lalu orang akan mengenal kita sebagai mama anu, ibu ini, atau nyonya inu. Kelihatannya untuk budaya masyarakat kita yang patriarki, kecenderungan perempuan tidak lagi menggunakan namanya sendiri akan lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

Pada saat baru menikah, sempat aku mengganti namaku menggunakan nama keluarga suami sebagai nama belakangku. Walaupun begitu, masih sedikit ‘tidak rela’, tetap mencantumkan inisial ‘R’ sebagai middle initial pengganti nama keluargaku sendiri … so it was Dessi R. Situmorang. Dan diketawain pula oleh iparku [inget nggak, Uli?], secara di keluarga batak [seperti tadi kusebut] nama gadis sang istri tetap eksis dipergunakan di setiap perhelatan resmi. Hal tersebut untuk menunjukkan posisi masing-masing dalam adat istiadatnya.

Lalu, sesudah mengalami banyak hal terkait dengan nama itu sendiri, baik di lingkungan profesi maupun domestik, akhirnya keputusan kembali kepadaku sebagai si empunya nama. With all due respect to my husband, the ancestors, and my foster family … aku tetap menggunakan namaku sendiri. Ups … salah deng, lebih tepatnya kontekstual. Sedang berperan sebagai apakah aku ? Karena kalau tidak, namaku menjadi cukup panjang [Theophila Dessianti Rajino-Situmorang br. Hutabarat alias Nai Miko .. *halaaaaah*] … kartunama-nya boleh dua halaman nggak ya ? *winking*.

01 : My birthday is coming, do you know what i need ?

02 : Yeah … but how do you wrap a life ?

My dear friend, Irene, said that i should wrap it with hope and tag it with joy. Thanks a lot, jeng, it was beautiful … well, at least it really suits my mood right now.

Feels like sharing these jokes :

When I was a child my family were so poor that the only thing I got on my birthday was a year older.

Age is strictly a case of mind over matter. If you don’t mind, it doesn’t matter – Jack Benny

Be kind to your kids, they’ll be choosing your nursing home – unknown

They say that age is all in your mind. The trick is keeping it from creeping down into your body – unknown

“When’s your birthday?”
“July 23.”
“What year?”
“Every year!”

this one’s my favorite … so i’m that old yah? haha :

“I’m giving a ‘surprised’ birthday party for you.”
“A ‘surprised’ birthday party? What’s that?”
“That’s where I invite a bunch of your friends, and if any of them come, I’ll be surprised!”

Friendship #1

Posted: November 29, 2009 in Sketsa

It is one of the severest tests of friendship to tell your friend his faults. So to love a man that you cannot bear to see a stain upon him, and to speak painful truth through loving words, that is friendship. -Henry Ward Beecher-

Don’t believe your friends when they ask you to be honest with them. All they really want is to be maintained in the good opinion they have of themselves. -Albert Camus-

A sense of duty is useful in work, but offensive in personal relations. People wish to be liked, not be endured with patient resignation. -Bertrand Russel-

You have been my friend. That in itself is a tremendous thing. I wove my webs for you because I liked you. After all, what’s a life, anyway? We’re born, we live a little while, we die. A spider’s life can’t help being something of a mess, with all this trapping and eating flies. By helping you, perhaps I was trying to lift up my life a trifle. Heaven knows anyone’s life can stand a little of that. [Charlotte on 'Charlotte's Web] -E.B.White-

Tough friendship is not quick to burn, It is explosive stuff. -May Sarton-

It is easier to forgive an enemy than to forgive a friend. -William Blake-

some words that came into my mind as i read all those quotes about friendships are :

trust … conscience … truth … life

that would be the basis of our friendship, dear friend.

so, last but not least, the quote of Ms. May Alcott :

Stay –  is a charming word in a friend’s vocabulary.

Haven’t Met You Yet – Michael Buble

Posted: November 23, 2009 in Musik

buat temen2 gw .. selvi, silvy, vero, nina, imel, dian, novi, shinta etc, etc  .. n all jombloers yang masih suka bertanya sama diri sendiri : where would my soulmate be ? don’ t worry, beibz … you just haven’t met them yet !

I’m not surprised
Not everything lasts
I’ve broken my heart so many times,
I stop keeping track
Talk myself in
I talk myself out
I get all worked up
And then I let myself down
I tried so very hard not to loose it
I came up with a million excuses
I thought .. i thought of every possibility
And I know someday that it’ll all turn out
You’ll make me work so we can work to work it out
And I promise you, kid, that i’ll give so much more than I get
I just haven’t met you yet
Mmmmm ….
I might have to wait
I’ll never give up
I guess it’s half timing
And the other half’s luck
Wherever you are
Whenever it’s right
You come out of nowhere and into my life
And I know that we can be so amazing
And, baby, your love is gonna change me
And now I can see every possibility
Mmmmm ……
And somehow I know that it will all turn out
And you’ll make me work so we can work to work it out
And I promise you, kid, I’ll give so much more than I get
I just haven’t met you yet
They say all’s fair
And in love and war
But I won’t need to fight it
We’ll get it right
And we’ll be united

the vulnerable thing .. i don’t like

Posted: November 10, 2009 in Artikel

kutemukan di antara proses searching-browsing-googling-’cimot’ing … hmmm … feels creepy a bit reading this ;-)

Have you ever been in love ? Horrible, isn’t it ?
It makes you vulnerable.
It opens your chest and it opens up your heart and it means that someone can get inside you and mess you up. You build up all these defenses, you build up a whole suit of armor, so that nothing can hurt you.
Then one stupid person, no different from any other stupid person, wanders into your stupid life …
You give them a piece of you. They didn’t ask for it.
They did something dumb one day, like kiss you or smile at you, and then your life isn’t your own anymore.
Love takes hostages. It gets inside you.
It eats you out and leaves you crying in the darkness, so simple a phrase like “maybe we should be just friends” turns into a glass splinter working its way into your heart.
It hurts.
Not just in the imagination.
Not just in mind.
It’s a soul-hurt, a real gets-inside-you-and-rips-you-apart pain.
I hate love.
[Neil Gaiman -  English born American Novelist, Journalist, Children's Author and Comics Writer of American Gods, amongst many others, b. 1960]

Well .. nanti2 kalu kutemukan “how we see love from a more warming-friendly-happy point of view” tentu akan aku share.

Tapi … terus terang aku setuju dengan term vulnerable di atas, walaupun kulihat sebagai kondisi yang terjadi pada setiap hubungan interpersonal. Hubungan pertemanan, persahabatan, profesi, dan -tentunya dalam konteks tulisan di atas- romantis. Setiap relasi interpersonal akan melibatkan emosi, in an either positive or negative way.

Vulnerable -dalam hal ini- kulihat sebagai suatu kondisi ibaratnya kita berdiri di atas … uhm apa ya … an unstable base, sort of. perasaan tidak nyaman, seolah2 sewaktu bisa jatuh karena dasar dimana kita berdiri selalu bergerak dan berubah arah [hehe, mendadak ingat 'sesuatu' .. but naaaah .. skip lah, that's already way past beyond this]. Cerita sekilas2 dari seorang teman dan hasil cimot-ing di atas membuatku teringat perasaan vulnerable tadi. Ke-rentan-an … rasanya bukan menjadi dasar yang cukup mantap bagi keberlangsungan setiap bentuk relasi.

Kaitannya dengan emosi, ke-rentan-an tadi itu tentu akan sangat banyak melibatkan emosi yang  memiliki grafik yang naik turun pula. nah, sekarang …  seberapa mampu seseorang mengalami semuanya itu ?

:) … maaf, kebetulan kali ini aku bukan mau kasih solusi atau apa sih. Cuma ingin melempar issue bahwa kita seringkali mengalami hal ini [... hahahaha, ngg penting banget yah ?!]. Hanya, seringkali kita tutup mata atau menyimpan perasaan2 seperti itu di dasar hati yang paling dalam. Yang kita tidak sadari adalah, perasaan tidak ‘aman’ dan rentan tadi itu bisa sewaktu2 muncul dan malah bisa membuat hubungan tidak menjadi lebih baik .. atau bahkan tambah parah. Hmmmm … hopefully not lah yaw !