Sebetulnya udah lamaaa banget pengen nulis tentang topik ini … nama-name-nom-nombre-naam …
What’s in a name?
That which we call a rose,
By any other name would smell as sweet
[Shakespeare - "Romeo and Juliet"]
Blaaah, gaya banget lu, des. Shakespeare segala, jo’ …
Pertama, membaca tulisan teman di FB notes-nya [thanks, Dita Wibisono], yang bercerita tentang tren penggunaan nama sesuai jaman, lalu yang sebelumnya -ini yang menarik buatku- kecenderungan untuk kehilangan ‘nama’ kita sendiri.
Kedua, teringat duluuu .. aku selalu geli setiap kali melihat acara anak-anak “Si Unyil” -sekitar tahun 80-an. Pada saat itu, buatku adalah suatu keanehan bahwa ternyata sebutan untuk orangtua si Unyil adalah “pak dan bu Unyil”, orangtua Mei Lan adalah “pak dan bu Mei Lan”, demikian juga orangtua si Ucrit, Usro dll.
Waktu itu komentarku -sambil ngakak, tentunya- selalu : ”Aneh amat, masa’ nama orangtuanya pakai nama anak sih? Emang ngg punya nama sendiri apa?”
Bertahun2 kemudian, sesudah kawin dan punya anak, ternyata sebutan ku pun berganti. Orang tidak lagi memanggilku dengan namaku sendiri, apalagi dalam lingkungan keluarga. Aku menjadi Mama Miko, nama anakku pertama. Kalau anak kita cukup banyak sih, wajar aja ya privilege itu diperoleh si sulung. Tapi sayang sekali karena aku cuma punya dua anak, maka kasihan sekali ya Renata, karena aku tidak menjadi Mama Renata.
Terus terang, aku sendiri tidak begitu ngeh dengan perubahan sebutan itu. Manalagi, pada saat itu aku masih bekerja, dan memiliki lingkungan sendiri yang tetap mengenalku sebagai ’si Dessi’. Dan di keluarga Batak, nama istri -walaupun juga sudah memiliki sebutan- tetap eksis sebagai konsekuensi adat. Namun kemudian, sesudah tidak bekerja, lingkunganku pun menjadi agak terbatas pada kehidupan domestik. Pada saat kami pindah ke Bali dan berinteraksi dengan orang-orang ‘baru’, kembali sebutan ini agak membuatku risih. Rupanya di banyak daerah di Indonesia, dan itu pula yang dijadikan acuan pembuatan serial si Unyil, penyebutan dan pemberian gelar atasnama anak adalah umum, lumrah dan wajar.
Kupikir kemudian, seperti juga yang Dita tulis : walah, aku tidak menjadi si Dessi lagi dong ya? Lalu orang akan mengenal kita sebagai mama anu, ibu ini, atau nyonya inu. Kelihatannya untuk budaya masyarakat kita yang patriarki, kecenderungan perempuan tidak lagi menggunakan namanya sendiri akan lebih tinggi dibandingkan laki-laki.
Pada saat baru menikah, sempat aku mengganti namaku menggunakan nama keluarga suami sebagai nama belakangku. Walaupun begitu, masih sedikit ‘tidak rela’, tetap mencantumkan inisial ‘R’ sebagai middle initial pengganti nama keluargaku sendiri … so it was Dessi R. Situmorang. Dan diketawain pula oleh iparku [inget nggak, Uli?], secara di keluarga batak [seperti tadi kusebut] nama gadis sang istri tetap eksis dipergunakan di setiap perhelatan resmi. Hal tersebut untuk menunjukkan posisi masing-masing dalam adat istiadatnya.
Lalu, sesudah mengalami banyak hal terkait dengan nama itu sendiri, baik di lingkungan profesi maupun domestik, akhirnya keputusan kembali kepadaku sebagai si empunya nama. With all due respect to my husband, the ancestors, and my foster family … aku tetap menggunakan namaku sendiri. Ups … salah deng, lebih tepatnya kontekstual. Sedang berperan sebagai apakah aku ? Karena kalau tidak, namaku menjadi cukup panjang [Theophila Dessianti Rajino-Situmorang br. Hutabarat alias Nai Miko .. *halaaaaah*] … kartunama-nya boleh dua halaman nggak ya ? *winking*.