tadi siang arisan keluarga … [lagi2 *sigh* .. walaupun aku sudah absen beberapa kali].
topik hari ini adalah rencana “mangain anak”, yi. proses memberi marga -atau lebih tepatnya, mengangkat seseorang masuk menjadi anggota keluarga- dalam hal ini, anak dibaca sebagai anak laki-laki. kalau obyeknya anak perempuan, maka istilahnya menjadi “mangain boru”. proses itu juga yang kualami sekitar 8 tahun yang lalu, 7 tahun setelah pernikahan resmi, sesudah anak-anak berusia 6 dan 4 tahun.
bersyukur aku punya mertua yang realistis. 15 tahun lalu ketika kami berencana menikah, kata mereka,
tak perlu bikin acara adat, selama yang menjalani belum paham dan mengerti makna dan manfaatnya
jadi yang aku ingat, tak perlu aku mirip ‘kambing congek’ seperti sang calon pengantin tadi siang. puyeng akibat persiapan, grogi karena ketemu banyak orang ‘baru’, harus duduk diam pasang tampang *seolah2 paham dengan senyum ear-to-ear* padahal … sumpeh looo … didn’t understand every word, at all. belum lagi, harus kenalan dan bersalaman dengan semua yang hadir, plus di-plonco pulak, masing-masing berusaha memberitahu harus memanggil tiap orang dengan sebutan yang … OMG … beda2 [kurasa, memori-nya mendadak drop ke level yang paling rendah tuh]. keciaaaan deee looo … !
masalah kerumitan, tentu cukup rumit prosesi adat ini, demikian pula dengan proses mangain boru. memang, lebih lazimnya adalah melakukan proses yang kedua dari yang pertama. konsep adat patriarki menganut paham si istri yang mengikuti suaminya, dan bukan sebaliknya [hehe .. untuk hal ini, kita ngobrol di lain waktu yah?!]. bicara konsekuensi, itu pula yang menjadi pertimbangan utama mertuaku, seberapa jauh kita menganggap hal tersebut penting dilakukan, seberapa perlunya ? jangan sampai ini semua dijalani hanya karena dipandang sebagai prosedur teknis, pelengkap administratif upacara perkawinan. padahal, konsekuensinya jauh lebih besar dari sekedar ‘itu’.
berbagai pendapat mengemuka begitu kita bicara pelaksanaan acara adat. mana yang penting, mana yang dianggap membuang2 waktu, uang dan enerji. setiap orang bisa bebas berpendapat, tentunya ….. free will, off course !
soal penting atau tidak, aku termasuk orang yang konservatif. buatku, adat istiadat adalah bagian dari eksistensi kita sebagai manusia, sebagai individu sosial, sebagai bagian dari alam yang kita tempati. rasanya, sebagai individu, aku membutuhkan pemahaman akan ‘akar’ku, akar silsilah keluarga, akar tempat tinggal, akar peristiwa masalalu … tanpa itu semua, seolah2 aku tidak eksis [jadi ingat novel "Roots"-nya Alex Haley]. jadi, menurutku, jawabannya adalah “ya, penting”.
bicara buang2 waktu, tenaga dan uang … hmmm, itu semua adalah hal teknis yang bisa dikompromikan. penting dan tidak penting … penting, karena menyangkut sumberdaya. tidak penting, apabila bicara terlalu berlarut2 untuk hal yang tidak esensial, namun kadang justru melupakan makna yang terkandung di dalam setiap prosesi dan keterlibatan sang pelaku utama. pertanyaan kembali kepada yang akan menjalani, kira2 taukah konsekuensinya bagaimana ? lalu .. sanggup kah menjalankan semuanya itu ? [hehehe .. aku sendiri merasa banyak sekali 'bolong'nya neh, padahal dulu proses mangadati itu kami sendiri yang propose ke keluarga besar .. *ups mahap*]. sepanjang kesiapan dan kesadaran itu datang dari diri sendiri, maka akan bereslah semuanya itu [*logat batak, tentunya*]. paling tidak, satu tahap penting sudah terlewati.
aku ingat, dulu ibuku langsung men-skip acara semacam balangan [lempar daun sirih], injak telor, tuang beras, serta bobot timbang. bukan maksud kami menyepelekan atau tidak menghargai [tentunya masih banyak orang yang sungguh memaknai masing2 tahapan pada prosesi tersebut], namun kami pun punya pertimbangan tertentu mengenai pemaknaan upacara tersebut. jadi ingat semboyan : liberté, égalité, fraternité … *ups, ngg ada hubungan ya?*
aku berasal dari keluarga dengan ras yang homogen, suami ku pun demikian. tapi generasi kedua kami sudah menjadi heterogen [apapun artinya itu .. uhm, penting ngg yah?]. itu pula yang kami sampaikan kepada mereka. aku yang terlahir sebagai orang jawa, telah menerima marga batak secara resmi, anak-anakku adalah ‘blasteran’ … kami memahami bahwa kami berasal dari dua suku yang masing2 memiliki adat istiadatnya masing2, dan tentunya kami pun menghayati sebagai bagian dari akar keluarga kami itu. namun, bukan berarti saudaraku sekandung menjadi otomatis berhak pula menggunakan marga yang kusandang saat ini. free will hanya datang dari aku sebagai pribadi. adik laki-lakiku tetap akan lebih nyaman dipanggil ‘Pak Le’ daripada ‘Tulang’, dan kakak perempuanku sebagai ‘Bu De’ daripada ‘Inangtua’.
so … apapun itu,
yang penting mah yang mau kawinnya bukan yak?! semoga menjalani ini semua dengan kesadaran penuh. ingat2 .. prinsip pernikahan adalah persatuan dua individu, walaupun konteks individu untuk masyarakat timur bisa berarti kelompok yang lebih besar. keluarga adalah kita juga, kita adalah keluarga … one for all, and all for one [eh ... naon?!].