yup … bukan sebentar memang. mem’bentuk’ karakter seseorang … tentu waktu menjadi relatif. satu detik, satu jam, satu hari, satu tahun, satu abad … apa yang sudah kita alami sehingga karakter semakin mewujud ?
di saat usia mencapai angka 40+ ..
secara anak2 sudah mulai besar dan mandiri, ngg mau lagi dijagai-in mama-papanya ..
dimana karir sudah mencapai level ‘mapan’, baik yang jadi kuli maupun yang punya usaha sendiri ..
istilah ABG -angkatan babe gue- sudah bisa dilabelkan di dahi, dimana dulu kita melihat para om dan tante selevel orangtua kita … ternyata sekarang pun sudah menerima panggilan yang sama oleh teman2 anak2 kita ..
secara asal-asalan, kusimpulkan bahwa begitu mencapai usia tertentu dimana karakter sudah semakin ‘jadi’, tentunya seseorang menjadi sulit sekali -bisa memang terlalu ‘kuat’nya karakter terbentuk, atau memang karena tidak ada niat- untuk menyesuaikan diri. kita cenderung berharap lingkungan sekitar yang ‘berubah’ atau menyesuaikan diri demi kita.
bicara usia … “masa’ sih yang lebih tua yang harus berubah demi yang lebih muda?”
bicara karir … “duh … kita kan udah level sekian, everybody have to adjust for me .. not me for them, of course”
bicara senioritas … “waktunya anak-anak ikut sama maunya orangtua dong, ah .. yang bener aja, kok kita yang ngikutin keinginan anak-anak sih”.
banyak alasan, banyak pertimbangan … kuncinya cuma satu, terlalu nyaman dengan apa yang sudah jadi pakemnya sehari-hari. dan kecenderungan untuk terbiasa memiliki power dan gengsi ‘tertentu’ … satu hal lagi, malas tentunya. kalau meminjam istilah anakku, turun deh dewa kemalasan menaungi
.
seringkali masih suka heran kalau melihat beberapa orang yang -mungkin tidak mau- berusaha memahami lingkungannya, tuntutan akan perubahan lebih diharapkan terjadi pada lingkungannya dan bukan pada dirinya. seolah-olah nyaman duduk di singgasana sambil tinggal menunjuk, maka akan ada yang melayani [.. ups enak juga yah? mauuuu dooong .. xixixixi], even do that to their friends … uuh mein Gott.
sebenarnya sih, bukan cuma soal usia. tapi terlalu lama ada pada posisi ‘memerintah’ tentunya berpengaruh terhadap interaksi kita dengan pihak lain. teringat waktu masih nguli di satu developer nasional papan atas kira-kira 10 tahun yang lalu. berhubungan dengan vendor, supplier, desainer … menjadi terbiasa dilayani, secara mereka ada pada pihak yang butuh order dari kami. tinggal angkat telepon, minta ini itu, perintah ini itu … jreng … fully top service, mantabs! perubahannya terasa sesudah akhirnya harus berusaha sendiri tanpa backup sebuah institusi. angkat telepon … masih harus melalui ritual tertentu terlebih dahulu. syukur2 kalau langsung dipahami kebutuhannya, tapi seringkali pertanyaan balik “huh, who???” muncul pada saat kita memperkenalkan diri. sedikit gengsi masa lalu dan ke-pede-an sih seringkali muncul … sikap mbung eleh kadang cukup membantu memantapkan ‘posisi’.
positifnya, aku banyak belajar … betapa berbeda berada pada putaran roda teratas dan di paling bawah. setiap putaran menuntun kita untuk semakin membuka mata. pada saat putaran roda ada di tingkat paling rendah, asal kita mau membuka mata dan hati, banyak hal-hal sepele membuat kita bisa belajar berbesar hati, belajar menjadi ‘besar’ dari hal-hal kecil. banyak peristiwa membuat kita semakin mensyukuri apa yang kita terima -baik atau buruk, banyak atau sedikit- karena biar bagaimana pun, kita masih diberi kesempatan menikmati apa yang kita usahakan.
konteks pertemanan sebaiknya dipahami sebagai bentuk kesetaraan. apapun situasinya, bahkan bagi teman yang juga menjadi bawahannya, pada saat kita berbicara sebagai ‘teman’ … maka kita adalah setara. anggaplah perintah sebagai permintaan tolong, honor sebagai perhatian, dilayani membutuhkan konsekuensi melayani pula, ingin diperhatikan menuntut perhatian vice versa. intinya, semua mengacu kepada asas kebersamaan.
so .. dear friends, be BFF … best friend forever!
![Pasukan 'kecil' Ibu-ku ... 'pasukan kecil'nya Ibu-ku [tampang badung dan tampang 'seolah2 manis']](http://grumpyme.files.wordpress.com/2009/04/gabungan.jpg?w=500&h=190)