
Ephiphany Window at Church of Imaculate Heart of Mary, Parish of Drumbo & Carryduff, Belfast, Ireland
Epifani, dari bahasa Yunani Koine yang berarti “Manifestasi” atau “Kemunculan” atau “Penampilan” adalah sebuah hari raya keagamaan Kristen pada tanggal 6 Januari yang merayakan Wahyu Allah sebagai manusia yaitu Yesus Kristus atau pemunculan/manifestasi Yesus Kristus terhadap Dunia. Dalam Gereja Barat maupun Timur memiliki pemahaman yang sama mengenai Epifani ini yaitu Manifestasi Yesus Kristus akan dunia namun menghayati peristiwa yang berbeda. Dalam Gereja barat epifani untuk memperingati kedatangan Tiga Orang Majus atau kadangkala disebut Tiga Raja, yang mengunjungi Yesus yang baru saja lahir, yang menunjukan Manifestasi Bayi Yesus Kristus terhadap orang bangsa lain (dunia) sebagai Anak Allah. Namun dalam Gereja Timur untuk memperingati pembaptisan Yesus Kristus oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan, yang menunjukkan Manifestasi Yesus Kristus memulai karya pelayanannya sebagai Anak Allah atau sering pula disebut Teofani.
Dalam Gereja Timur Epifani juga sebagi puncak perayaan masa Natal atau perayaan Kelahiran Yesus Kristus mulai dari 25 Desember – 5 Januari. Sumber bacaan : Berita Paroki St. Anna Duren Sawit 2 Januari 2011.
Kotbah-nya Romo Sudri tadi pagi bikin gw ‘bangun’, padahal tadinya udh rencana pengen merem bentar, secara ngerasa belum puas nempel bantal [hlaaa .. kenapa juga ikutan misa pagi atuh ?!]. Yang bikin bangun bukan karena pernyataan Romo soal ketergantungan kita terhadap teknologi, atau, sebaliknya hidup kita saat ini sebagian besar sudah ‘diatur’ oleh teknologi; hihihi .. itu mah introduksinya aja. Tapi, lebih kepada pertanyaannya : bagaimana sih ‘penampakan’ itu menjadi ‘nampak’ bagi kita ? Emang kenapa sih kok tiga orang Sang Raja dari Timur atau disebut juga Orang Majus, atau ada juga yang bilang Sarjana dari Timur bisa melihat Bintang Penunjuk Arah sedangkan orang lain tidak [apalagi Herodes yaa boooook ?!] ?
Lanjutnya, apabila kita mau [bukan sekedar bisa] mengadakan perubahan radikal di dalam hidup kita, di dalam diri kita, semestinya kita juga mampu melihat apa yang semula ‘seolah2′ tak nampak menjadi nampak. Merubah diri kita secara total, cara berpikir, bertindak, bereaksi terhadap lingkungan … akan membuat kita menampak Bayi Yesus, melihat jalan keselamatan kita sendiri.
Tiba2 gw jadi nyambung sama -lagi2- The Alchemist-nya Paulo Coelho. Mengejar ‘mimpi’ ke penjuru dunia, ternyata adanya di halaman rumah sendiri. Atau, kata2 bijak dalam Harta Dalam Dapur Sendiri dari Doa Sang Katak 2, tulisan salah satu Jesuit favoritku, Anthony de Mello.
Mengapa tak nampak ? Sebabnya bisa banyak. Tapi yang paling penting, sebab utamanya ada di dalam diri sendiri. Kita tidak pernah melatih diri untuk berani keluar dari kotak, terbiasa menjadi katak di dalam tempurung. Bukannya tidak bisa … tapi tidak mau !
Satu lagi alasan paling pol untuk ketidakinginan-berubah-secara-radikal ini adalah : “abis gimana yaaa, udh PEWE neh”. Hihihi … paan tuh pewe ? Pewe tuh “posisi wenaak” alias udah males bergerak, males pindah, males bergeser, males berubah .. itu poin-nya. Kita sudah merasa bangku kita duduk saat ini udah ‘nyaman’, dalam arti sudah mencapai ‘comfort zone’, apapun definisi dari comfort itu sendiri. Kenapa aku bilang demikian ? Karena ukuran kenyamanan itu relatif. Nyaman karena tidak kepikiran bahwa ada nyaman yang ‘lain’ , atau nyaman yang cukup sampai disini saja (kita tidak mengenal kemampuan kita bisa mencapai lebih dari apa yang kita capai saat ini), atau bisa jadi -mungkin aku agak2 underestimate- memang nyaman yang kita capai saat ini sudah optimal, sesuai harapan/ekspektasi kita.
Sebetulnya, kalau tingkat kenyamanan yang ketiga sudah tercapai .. well .. what to discuss more ? Nothing ! Itu sudah merupakan pencapaian maksimum yang bisa diperoleh seseorang. Artinya … we did it, we did it … hurraaayy! [kata Dora the Explorer]. Terkadang, kita berusaha meyakinkan diri kita sendiri bahwa apa yang kita peroleh saat ini sudah yg terbaik, namun, ada satu suara di dalam hati kecil kita yang selalu muncul : ini ngg bener nih, wah .. atau .. nih dia nih yang bikin gw males nih .. atau .. adddeeuuuuhh, masalah lagi deh .. atau .. duh, kok males ya. Dan perasaan ini makin lama makin menggerogoti. Hmmm .. well .. if so, you know what i mean, right ?!
It’s time to take action to change ! So, be brave, be confident to do so ! Good luck !
