minyak suci

Posted in Artikel on November 2, 2009 by dessirajino

Gara2 dengar kabar guru SMAku sakit parah, dan telah memperoleh Sakramen Perminyakan, iseng2 tadi pagi aku googling dan memperoleh materi di bawah ini.

Teringat pula Pakde -kakaknya ibu- yang beberapakali juga memperoleh Sakramen ini. Beliau selalu berkata, bahwa orang2 salah kaprah dengan pengertian “sudah mendapatkan sakramen minyak suci” .. kok semua orang jadi takut dan was-was bahwa kematian sudah menjelang. Menerima minyak suci itu adalah hal yang wajar. Bahkan orang yang ’sehat’ pun bisa menerimanya, kalau dia sudah bisa merasakan bahwa ‘hidup’ dan ‘mati’ adalah satu kesatuan, satu kenyataan, seperti koin [bolak-balik], seperti pemahaman akan Yin dan Yang … sudah ‘blending‘ dengan dirinya. Bahwa manusia hidup adalah manusia yang mati, dan bahwa kematian adalah kehidupan.

Duh .. jadi ingat apa yang disampaikan Rm. Sudri di suatu misa hari Minggu pagi. Kematian adalah hidup itu sendiri. Kalau setiap orang sudah bisa memahami kematian, maka  orang itu menjadi hidup. Dan bahwa kehidupan adalah memahami dan menghayati bahwa kematian ada di setiap kedipan mata ….

SAKRAMEN PERMINYAKAN / PENGURAPAN ORANG SAKIT

Apakah Sakramen Pengurapan Orang sakit itu? Sakramen ini adalah salah satu dari 7 sakramen yang umumnya diberikan Gereja kepada orang yang dalam keadaan bahaya kematian atau orang yang dalam kondisi sakit berat/parah.

Melalui sakramen ini, Tuhan ingin hadir dekat dengan si sakit, melalui Perantaraan Pelayan Gereja. Tanda lahiriah yang meneguhkan itu diharapkan akan menumbuhkan/menguatkan Iman si sakit. Tanda itu terdiri dari penumpangan tangan (tanda perlindungan, penghiburan dan penguatan) dan pengurapan dengan minyak (tanda kedekatan yang meringankan, Tanda Roh Kudus yang menyerupakan Manusia dengan Kristus[Kristus: yang Terurapi]).

Sakramen ini memiliki dasar kitab suci antara lain Mark 6:13 “dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka”; mark 16:18 “mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh”; Yak 5:14-16 “Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni. Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” dengan Menerima sakramen ini mereka yang sakit mendapat peneguhan bahwa Allah hadir dan mendampingi sehingga mereka percaya bahwa Allah membantu menanggung pula beban si sakit (lih Mat 8:17).

Dengan Menerima Sakramen ini si sakit mau menggabungkan penderitaannya bersama penderitaan Yesus, sehingga jalan salib yang ditempuh si sakit menjadi jalan menuju Paska, dan bila memang kehendak Penyelenggaraan Ilahi maka si sakit bisa kembali sembuh dan pulih seperti sediakala.

Berikut kesaksian Bapa Gereja tentang Sakramen Pengurapan orang sakit:

  • “We beseech you, Savior of all men, you that have all virtue and power, Father of our Lord and Savior Jesus Christ, and we pray that you send down from heaven the healing power of the only-begotten [Son] upon this oil, so that for those who are anointed . . . it may be effected for the casting out of every disease and every bodily infirmity. . . for good grace and remission of sins . . . ” (The Sacramentary of Serapion 29:1).
  • “For they are bold enough to teach, to dispute, to enact exorcisms, to undertake(13) cures–it may be even to baptize.” Tertullian,Prescription,49(A.D. 200),in ANF,III:263
  • “O God who sanctifiest this oil as Thou dost grant unto all who are anointed and receive of it the hallowing wherewith Thou didst anoint kings and priests and prophets, so grant that it may give strength to all that taste of it and health to all that use it.” Hippolytus of Rome,Apostolic Tradition,5:2(c.A.D. 215),in AT,10
  • “In addition to these there is also a seventh, albeit hard and laborious…In this way there is fufilled that too, which the Apostle James says :’If then, there is anyone sick, let him call the presbyters of the Church, and let them impose hands upon him, anointing him with oil in the name of the Lord; and the prayer of faith will save the sick man, and if he be in sins, they shall be forgiven him.’ ” Origen,Homily on Leviticus,2:4(A.D. 244),in JUR,I:207
  • “[O]f the sacrament of life, by which Christians [baptism], priests [in ordination], kings and prophets are made perfect; it illuminates darkness [in confirmation], anoints the sick, and by its secret sacrament restores penitents.” Aphraates the Persian Sage,Treatises, 23:3(A.D. 345), in CE,V:720
  • “For not only at the time of regeneration, but afterwards also, they have authority to forgive sins. ‘Is any sick among you?’ it is said, ‘let him call for the elders of the Church and let them pray over him, anointing him with oil in the name of the Lord. And the prayer of faith shall save the sick, and the Lord will raise him up: and if he have committed sins they shall be forgiven him.’ ” John Chrysostom,On the Priesthood,3:6(A.D. 386),in NPNF1,IX:48
  • “[The sick] considered a more terrible calamity than disease itself … [instead of allowing] the hands of the Arians to be laid on the heads.” Athanasius, Encyclical Epistle (A.D. 341),in CE,V:720
  • “[this oil]…for good grace and remission of sins, for a medicine of life and salvation, for health and soundness of soul, body, spirit, for perfect strengthening.” Serapion of Thmuis,Anaphora,29:1(A.D. 350),in CE,V:720
  • “They pray over thee; one blows on thee, another seals thee.” Ephraim,Homily 46(ante A.D. 373),in CE,V:720
  • “Why, then, do you lay on hands, and believe it to be the effect of the blessing, if perchance some sick person recovers? Why do you assume that any can be cleansed by you from the pollution of the devil? Why do you baptize if sins cannot be remitted by man? If baptism is certainly the remission of all sins, what difference does it make whether priests claim that this power is given to them in penance or at the font? In each the mystery is one.” Ambrose,Penance,1,8:36(A.D. 390),in NPNF2,X:335
  • “[I]f some part of your body is suffering…recall also the saying in the divinely inspired Scripture: ‘Is anyone among you ill? Let him call the presbyters of the Church and let them pray over him, anointing him with oil in the name of the Lord. and the prayer of faith will save the sick man, and the Lord will raise him up, and if he be in sins they shall be forgiven.(James 5:14-15)” Cyril of Alexandria,Worship and Adoration,6(A.D. 412),in JUR,III:217
  • “[I]n the epistle of the blessed Apostle James…’If anyone among you is sick, let him call the priests…’. There is no doubt that this anointing ought to be interpreted or understood of the sick faithful, who can be anointed with the holy oil of chrism…it is a kind of sacrament.” Pope Innocent[regn. A.D. 401-416],To Decentius,25,8,11(A.D. 416),in DEN,43
  • “[L]et him who is ill receive the Body and Blood of Christ; let him humbly and in faith ask the presbyters for blessed oit, to anoint his body, so that what was written may be fufilled in him: ‘Is anyone among you sick? Let him bring in the presbyters, and let them pray over him, anointing him with oil; and the prayer of faith will save the sick man, and the Lord will raise him up; and if he be in sins, they will be forgiven him (James 5:14-15)” Ceasar of Arles,Sermons,13(265),3(ante A.D. 542),in JUR,III:285
  • “[A] priest is to be called in, who by the prayer of faith and the unction of the holy oil which he imparts will save him who is afflicted [by a serious injury or by sickness].” Cassiodorus,Complexiones(A.D. 570),in CE,V:7
God bless you, pak Warto …
He will give you strength and always hold you in His hand through every path you take, in His name and the glory of His kingdom.

Lesson for today : Hakuna Matata

Posted in 1 on October 13, 2009 by dessirajino

No worries !!

Hhhh …  enaknya jadi anak2 … sore2 si mbak bilang begitu.

Yup …  setuju banget ! Nggak usah pusing mikirin banyak kerjaan, tapi bisa pusing juga kalau lagi ‘rindu proyek’.  Dari mulai ibu2 RT tiap pagi pusing berdiri bengong di depan gerobak tukang sayur sambil mikir “Duh … masak apa yah hari ini ? Makan ini bosan, yang itu bosan juga”, belum lagi yang pergi kerja harus bangun pagi2 supaya nggak kena macet. Telat satu menit aja, udah keburu kena antrian di lampu merah. Begitu pula sore pulang kerja, udah pusing lagi nggak boleh pulang terlalu sore [nggak mungkin ya .. kalau nggak mau di'sret' *gaya potong leher*], atau kemalaman. Belum lagi mikir beban pekerjaan serta kewajiban yang harus dipenuhi sesuai dengan peran kita masing-masing.

Well .. well .. that’s life, my friend !

Aku jadi teringat peristiwa tadi siang.  Saat menjemput anak2 pulang sekolah, mendadak hujan turun deras, dengan butiran yang besar dan angin kencang. Sebagai orangtua, yang pertama muncul dalam benak adalah … “Duh, jangan sampai anak2 kehujanan. Nanti bisa sakit lah, bisa ini lah, bisa itu lah”. Kulihat anak2 berlari2 menghindari hujan sambil cekakak-cekikik ramai2 dengan teman2nya. Melihat hal itu, kening langsung berkerut sambil menggerutu begitu mereka mendekati,

Kok jas hujannya nggak dipakai? Nggak kelupaan bawa kan? Udah dibekalin jas hujan kok nggak dipakai siih? Nanti kalau sakit, gimana ??

Segala omelan langsung mengalir lengkap dengan nasihat ini itu. Lalu kupikir : OMG …  i am a fussy mom !! [*yikes ...*]

Saat kulihat teman2 anak2 berlari2 kehujanan sepanjang jalan pulang, kupinggirkan mobil untuk mengangkut mereka. Kupikir, lumayan lah nggak perlu kehujanan walaupun cuma sampai tempat terdekat yang bisa dicapai selewatan jalan pulang kami. Dan ajakanku ramai2 mereka tolak dengan sukses !!

Anak2 di mobil komentar sambil ngetawain mamanya :

Yaaa … mama! Mana mereka mau, kan seru rame2 ujan2an. Kita juga sebenernya tadi pengen kok, ujan2an rame2 !

Ya ampuuuuun … hahahahaha! Betul-betul  deh ya ?!

Kupikir, iya benar juga ya. Jadi ingat jaman sekolah dulu. Payung, jas hujan…no cool, man! Kalau bisa, kita hujan2an rame2 … siapa takut?!

Huh … wished we could turn back time ! Kembali ke masa2 dimana kita tidak harus berpikir mengenai banyak hal …  ’beban’ hidup, kekuatiran, kewajiban, ketakutan [*sigh*].

Well … well … [again] that’s life, friend ! This is our cycle of life, Simba !

kartu ucapan di antara sms, inbox msg, imel, tweets …

Posted in Artikel with tags , , , , , , , , on September 20, 2009 by dessirajino

hari raya lagi …

ucapan selamat lagi …

aku paling malas sebetulnya menyampaikan ucapan selamat dalam bentuk electronic message, baik sms, email, personal message, tweets, status updates .. artinya, melalui media elektronik apapun kecuali telepon. something personal become impersonal

pertama, ucapan selamat kuanggap sebagai bentuk kedekatan, simpati, sarana berkomunikasi dan berhubungan satu sama lain .. prioritasku adalah teman terdekat, tentunya.  sehingga, aku cenderung hanya berhubungan dengan sejumlah tertentu orang dari friend list-ku, means my very special friends through private media. contohnya, aku lebih suka memberi selamat ulangtahun melalui inbox facebook daripada menulis di wall-nya atau komen di status yang notabene bisa dibaca oleh semua orang di seluruh dunia.

kedua, bentuk ucapan selamat tentunya harus menjadi suatu hal yang personal, yang spesial, khusus dibuat untuk orang-orang spesial, sehingga doa maupun harapan yang tertulis di dalamnya memiliki makna yang dalam, baik bagi si pengirim maupun si penerima. hal-hal seperti itu yang kunilai agak hilang dengan adanya segala sarana yang mengatasnamakan ‘kepraktisan’ saat ini. apalagi dengan sms sama -atau copypaste- dikirim ke semua teman di contact list kita.

satu hal yang selalu saja terlewatkan, bahkan menjadi niatku dalam 2 tahun terakhir, adalah menyampaikan selamat melalui cara konvensional. teringat jaman sekolah dulu … setiap tahun selalu sibuk membuat daftar untuk kartu Lebaran atau Natal yang akan kukirimkan 2 minggu sebelum hari-H. karena kegiatan itu pula, tukang pos selalu menjadi orang yang paling kami tunggu. termasuk kegiatan memasukkan beramplop2 kartu ucapan di bis surat seberang jalan [kalau sudah mepet jam pengambilan -biasanya jam 10.00 dan  14.00- kami berlari2 sebelum keduluan mobil pos yang meng-kolek]. hmmm .. jadi ingat Mr. Postman-nya The Beatles

selain keasikan berkirim surat, tentu menunggu kiriman surat merupakan hal lain yang mengasikkan … berebutan mencari  di antara tumpukan surat di meja makan [bayangkan, kami serumah enam bersaudara], di antara banyak kiriman buat bapak-ibu.

satu hal lagi, biasanya kami lebih senang membuat sendiri kartu ucapan dibandingkan membeli yang sudah jadi dari toko. tentunya butuh waktu dan tenaga ekstra … tapi justru disitu lah letak serunya. kadang, kami bisa menambahkan satu-dua pesan dan gambar bagi orang-orang tertentu. hhh .. those good ol’ days.

memang sayang yah, hal-hal tersebut terpaksa kita tinggalkan. selain alasan klise mengenai waktu dan tenaga, segala kemudahan yang ada sekarang semakin memfasilitasi kemalasan kita … hmmppffh, another excuses ! sayang juga karena anak2 kita saat ini kurang mengenal komunikasi jadul model kita dulu itu [btw, dulu kita kenal banget lho dengan tukang pos yang tiap hari muncul naik sepeda] … hmmm, belum lagi bentuk2 lain macam telegram, kartupos, warkat pos dll.

so, temans …

akhirnya, dengan terpaksa mengatasnamakan segala kepraktisan [dan -lagilagi- alasan klise .. kagak sempat booook] …. dan utamanya, karena aku tak mau melewatkan sedikitpun kesempatan untuk menyampaikan kepada semua teman terdekat :

Selamat Hari Raya – Idul Fitri 1 Syawal 1430 H

Mohon Maaf Lahir Batin

throw the garbage out of your mind, dear

Posted in Artikel with tags , , on September 15, 2009 by dessirajino

Suatu siang, saat menikmati gosip sambil makan siang bersama mbak Lia -my big sista- dan Stella, teman curhat-bergunjing-cekikikan, tiba2 datang undangan melalui telepon dari teman sekantorku dulu. Undangan berbuka puasa sekaligus merayakan pernikahan putri tunggalnya pada hari dengan tanggal ajaib 090909, 09 September 09 yang sayangnya tidak bisa dirayakan pada pukul 09.09 pagi karena masih puasa sedangkan kalau pukul 09.09 sudah lewat waktu makan malam, tentunya.

Surprising … and was quite flattered for the invitation, to tell you the truth. Yang aku tahu relasi dan kerabat mbak Yanti, temanku ini, sungguh tak terhingga. Dari kalangan selebritis, pejabat, pengusaha, sosialita … mmm sebut apa saja. Untuk perhelatan sekali seumur hidup bagi putri tunggalnya, yang undangannya hanya berjumlah paling banyak 150 orang … i was invited! Thanks for remembering me ya, mbak Yanti. And surely it was a very nice party, n good food, of course. Sayangnya, aku nggak kuat menikmati semuanya. Too much for the menu … kebiasaan dari dulu tuh, lapar mata. Semua yang ada di dalam list tak ada yang terlewat, dan kita semua yang disuruh jadi keranjang sampah.

Okay, skip the party

Aku selalu terkesan sama si mbak, mantan pramugari maskapai penerbangan nasional bersuamikan pilot perusahaan yang sama, dengan posisi yang sudah beyond every pilot in the country (betul kan?). Dulu, aku selalu merasa canggung dan nggak pede kalau berhadapan dengan orang lain. Apalagi kalau -lagi-lagi- label “lebih dari aku” sudah kutempelkan pada setiap orang yang akan kutemui. Si mbak yang mengajak aku melihat orang lain dan diri kita dari sudut pandang yang lain. Dia juga yang menunjukkan bagaimana bersikap sopan terhadap orang lain tanpa perlu terlihat berbasa-basi, memuji orang lain tanpa terkesan menjilat, keep being humble dengan segala kekurangan dan kelebihan kita. Satu yang selalu menempel di ingatanku adalah salah satu dari banyak ceritanya, hasil dari obrolannya dengan seorang ‘guru kebajikan’ yang pernah ditemuinya. Bahwa, apa yang ada di dalam kepala dan pikiran kita itu sebenarnya sebagian besar adalah sampah yang cuma sekadar ‘menuh2-in aja’. Kita harus bisa memilah dan menyortir apa yang betul-betul penting bagi kita dan mana yang cuma sampah yang harus segera dibuang dan disingkirkan. Kalau kita berhasil membuang sampah pikiran, maka kita semestinya bisa lebih bijak memandang segala sesuatunya.

Satu lagi, dia seringkali bilang :

Dessi(h), dessi(h) .. *dgn logat sunda kental* .. ayooo dong bantu, gw kan bisanya cuma ngomong doang, nggak bisa nulis apalagi mikir. Bantuu dong bikinin proposal sama itungin, kamu kan pinter begituan.

Hmmmm .. bisa aja lu, mbak. Tapi emang sih, mending aku yang bikin proposal, karena si mbak lebih baik yang jualan. Hehehehe …

Ok deh, sekali lagi .. congratulations, mbak Yanti Sumarhudoyo.  You did great … to you, to your family, to your friends. Tapi tolooooong deh, aduh … kita nggak kuat lagi kalau disuruh ngabisin makanan yang lu pesan. Kapasitas perut udah nggak seperti dulu lagi niiiih.

free will, my friend

Posted in 1, Artikel on August 2, 2009 by dessirajino

tadi siang arisan keluarga … [lagi2  *sigh* .. walaupun aku sudah absen beberapa kali].

topik hari ini adalah rencana “mangain anak”, yi. proses memberi marga -atau lebih tepatnya, mengangkat seseorang masuk menjadi anggota keluarga- dalam hal ini, anak dibaca sebagai anak laki-laki. kalau obyeknya anak perempuan, maka istilahnya menjadi “mangain boru”.  proses itu juga yang kualami sekitar 8 tahun yang lalu, 7 tahun setelah pernikahan resmi, sesudah anak-anak berusia 6 dan 4 tahun.

bersyukur aku punya mertua yang realistis. 15 tahun lalu ketika kami berencana menikah, kata mereka,

tak perlu bikin acara adat, selama yang menjalani belum paham dan mengerti makna dan manfaatnya

jadi yang aku ingat, tak perlu aku mirip ‘kambing congek’ seperti sang calon pengantin tadi siang. puyeng akibat persiapan, grogi karena ketemu banyak orang ‘baru’, harus duduk diam pasang tampang *seolah2 paham dengan senyum ear-to-ear* padahal … sumpeh looo … didn’t understand every word, at all. belum lagi, harus kenalan dan bersalaman dengan semua yang hadir, plus di-plonco pulak, masing-masing berusaha memberitahu harus memanggil tiap orang dengan sebutan yang … OMG … beda2 [kurasa, memori-nya mendadak drop ke level yang paling rendah tuh]. keciaaaan deee looo … !

masalah kerumitan, tentu cukup rumit prosesi adat ini, demikian pula dengan proses mangain boru. memang, lebih lazimnya adalah melakukan proses yang kedua dari yang pertama. konsep adat patriarki menganut paham si istri yang mengikuti suaminya, dan bukan sebaliknya [hehe .. untuk hal ini, kita ngobrol di lain waktu yah?!].  bicara konsekuensi, itu pula yang menjadi pertimbangan utama mertuaku, seberapa jauh kita menganggap hal tersebut penting dilakukan, seberapa perlunya ? jangan sampai ini semua dijalani hanya karena dipandang sebagai prosedur teknis, pelengkap administratif upacara perkawinan. padahal, konsekuensinya jauh lebih besar dari sekedar ‘itu’.

berbagai pendapat mengemuka begitu kita bicara pelaksanaan acara adat. mana yang penting, mana yang dianggap membuang2 waktu, uang dan enerji. setiap orang bisa bebas berpendapat, tentunya ….. free will, off course !

soal penting atau tidak, aku termasuk orang yang konservatif. buatku, adat istiadat adalah bagian dari eksistensi kita sebagai manusia, sebagai individu sosial, sebagai bagian dari alam yang kita tempati. rasanya, sebagai individu, aku membutuhkan pemahaman akan ‘akar’ku, akar silsilah keluarga, akar tempat tinggal, akar peristiwa masalalu … tanpa itu semua, seolah2 aku tidak eksis [jadi ingat novel "Roots"-nya Alex Haley]. jadi, menurutku, jawabannya adalah “ya, penting”.

bicara buang2 waktu, tenaga dan uang … hmmm, itu semua adalah hal teknis yang bisa dikompromikan. penting dan tidak penting …  penting, karena menyangkut sumberdaya. tidak penting, apabila bicara terlalu berlarut2 untuk hal yang tidak esensial, namun kadang justru melupakan makna yang terkandung di dalam setiap prosesi dan keterlibatan sang pelaku utama. pertanyaan kembali kepada yang akan menjalani, kira2 taukah konsekuensinya bagaimana ? lalu .. sanggup kah menjalankan semuanya itu ? [hehehe .. aku sendiri merasa banyak sekali 'bolong'nya neh, padahal dulu proses mangadati itu kami sendiri yang propose ke keluarga besar .. *ups mahap*]. sepanjang kesiapan dan kesadaran itu datang dari diri sendiri, maka akan bereslah semuanya itu [*logat batak, tentunya*]. paling tidak, satu tahap penting sudah terlewati.

aku ingat, dulu ibuku langsung men-skip acara semacam balangan [lempar daun sirih], injak telor, tuang beras, serta bobot timbang. bukan maksud kami menyepelekan atau tidak menghargai [tentunya masih banyak orang yang sungguh memaknai masing2 tahapan pada prosesi tersebut], namun kami pun punya pertimbangan tertentu mengenai pemaknaan upacara tersebut. jadi ingat semboyan : liberté, égalité, fraternité … *ups, ngg ada hubungan ya?*

aku berasal dari keluarga dengan ras yang homogen, suami ku pun demikian. tapi generasi kedua kami sudah menjadi heterogen [apapun artinya itu .. uhm, penting ngg yah?]. itu pula yang kami sampaikan kepada mereka. aku yang terlahir sebagai orang jawa, telah menerima marga batak secara resmi, anak-anakku adalah ‘blasteran’ … kami memahami bahwa kami berasal dari dua suku yang masing2 memiliki adat istiadatnya masing2, dan tentunya kami pun menghayati sebagai bagian dari akar keluarga kami itu. namun, bukan berarti saudaraku sekandung menjadi otomatis berhak pula menggunakan marga yang kusandang saat ini. free will hanya datang dari aku sebagai pribadi. adik laki-lakiku tetap akan lebih nyaman dipanggil ‘Pak Le’ daripada ‘Tulang’, dan kakak perempuanku sebagai ‘Bu De’ daripada ‘Inangtua’.

so … apapun itu,

yang penting mah yang mau kawinnya bukan yak?! semoga menjalani ini semua dengan kesadaran penuh. ingat2 .. prinsip pernikahan adalah persatuan dua individu, walaupun konteks individu untuk masyarakat timur bisa berarti kelompok yang lebih besar. keluarga adalah kita juga, kita adalah keluarga … one for all, and all for one [eh ... naon?!].

speak, Lord, for your servant is listening

Posted in 1 on July 28, 2009 by dessirajino

Selasa, 28 Juli 2009 ; 21:55

Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.
Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. (Yesaya 55:8-9)


The Boxer

Posted in Musik on July 20, 2009 by dessirajino

Paul Simon only, minus Artie, on David Letterman Show

jadi inget dulu suka nyanyiin sambil gitar-an .. duh .. dah lupa kuncinya [*kok jadi inget apa yah?*]. o ya … notice the bassist on the left … xixixixi.

keteduhan hidup

Posted in Artikel on July 19, 2009 by dessirajino

Di tengah hiruk pikuk keduniawian …

tulisan Gede Prama di Kompas pagi hari ini, menjadi penyejuk jiwa … dan yang paling penting, bagaimana kita belajar menjadi ikhlas.

Dengan memberi, manusia menerima.

Dengan merelakan, manusia menjadi kaya jiwa.

Melalui pemberian dan kerelaan hati, manusia mencapai keteduhan hidup. Dengan demikian, manusia bersahabat dengan kematian. Karena melalui kematian pula, manusia memberi.

Doa Damai St. Fransiskus Asisi

Tuhan,
Jadikanlah aku pembawa damai,
Bila terjadi kebencian,
jadikanlah aku pembawa cinta kasih,
Bila terjadi penghinaan,
jadikanlah aku pembawa pengampunan,
Bila terjadi perselisihan,
jadikanlah aku pembawa kerukunan,
Bila terjadi kebimbangan,
jadikanlah aku pembawa kepastian,
Bila terjadi kesesatan,
jadikanlah aku pembawa kebenaran,
Bila terjadi kesedihan,
jadikanlah aku sumber kegembiraan,
Bila terjadi kegelapan,
jadikanlah aku pembawa terang.
Tuhan semoga aku ingin menghibur dari pada dihibur,
memahami dari pada dipahami,
mencintai dari pada dicintai,
sebab
dengan memberi aku menerima,
dengan mengampuni aku diampuni,
dengan mati suci aku bangkit lagi,
untuk hidup selama-lamanya.

Amin.

Ups … apa yang ada di atas bukan karena peristiwa yang kualami terakhir, tapi lebih kepada kondisi yang kuamati dalam keseharianku. Secara umum, kita saat ini tidak dibiasakan dengan kondisi berbagi. Dengan dalih keamanan dan kenyamanan, kita semakin terlatih menjadi manusia yang individualis dan egois. Begitu pula yang kita wariskan kepada anak cucu.

Pun apabila akhirnya mau membagi, maka kita akan melakukan tahapan penyortiran, pemilahan, pembatasan dan penentuan persyaratan secara besar-besaran.

Maka, pertanyaan yang sering kita ajukan “Mau jadi apa yah anak-anak kita di masa yang akan datang?”  hanya akan bisa dijawab oleh kita, dengan bercermin kepada diri sendiri.

18 – 25 tahun … bukan waktu sebentar

Posted in Artikel on July 9, 2009 by dessirajino

yup … bukan sebentar memang. mem’bentuk’ karakter seseorang … tentu waktu menjadi relatif.  satu detik, satu jam, satu hari, satu tahun, satu abad … apa yang sudah kita alami sehingga karakter semakin mewujud ?

di saat usia mencapai angka 40+ ..

secara anak2 sudah mulai besar dan mandiri, ngg mau lagi dijagai-in mama-papanya ..

dimana karir sudah mencapai level ‘mapan’, baik yang jadi kuli maupun yang punya usaha sendiri ..

istilah ABG -angkatan babe gue- sudah bisa dilabelkan di dahi, dimana dulu kita melihat para om dan tante selevel orangtua kita … ternyata sekarang pun sudah menerima panggilan yang sama oleh teman2 anak2 kita ..

secara asal-asalan, kusimpulkan bahwa begitu mencapai usia tertentu dimana karakter sudah semakin ‘jadi’, tentunya seseorang menjadi sulit sekali -bisa memang terlalu ‘kuat’nya karakter terbentuk, atau memang karena tidak ada niat- untuk menyesuaikan diri. kita cenderung berharap lingkungan sekitar yang ‘berubah’ atau menyesuaikan diri demi kita.

bicara usia … “masa’ sih yang lebih tua yang harus berubah demi yang lebih muda?”

bicara karir … “duh … kita kan udah level sekian, everybody have to adjust for me .. not me for them, of course”

bicara senioritas … “waktunya anak-anak ikut sama maunya orangtua dong, ah .. yang bener aja, kok kita yang ngikutin keinginan anak-anak sih”.

banyak alasan, banyak pertimbangan … kuncinya cuma satu, terlalu nyaman dengan apa yang sudah jadi pakemnya sehari-hari. dan kecenderungan untuk terbiasa memiliki power dan gengsi ‘tertentu’ … satu hal lagi, malas tentunya. kalau meminjam istilah anakku, turun deh dewa kemalasan menaungi ;-) .

seringkali masih suka heran kalau melihat beberapa orang yang -mungkin tidak mau- berusaha memahami lingkungannya, tuntutan akan perubahan lebih diharapkan terjadi pada lingkungannya dan bukan pada dirinya. seolah-olah nyaman duduk di singgasana sambil tinggal menunjuk, maka akan ada yang melayani [.. ups enak juga yah? mauuuu dooong .. xixixixi], even do that to their friends … uuh mein Gott.

sebenarnya sih, bukan cuma soal usia. tapi terlalu lama ada pada posisi ‘memerintah’ tentunya berpengaruh terhadap interaksi kita dengan pihak lain. teringat waktu masih nguli di satu developer nasional papan atas kira-kira 10 tahun yang lalu. berhubungan dengan vendor, supplier, desainer … menjadi terbiasa dilayani, secara mereka ada pada pihak yang butuh order dari kami. tinggal angkat telepon, minta ini itu, perintah ini itu … jreng … fully top service, mantabs! perubahannya terasa sesudah akhirnya harus berusaha sendiri tanpa backup sebuah institusi. angkat telepon … masih harus melalui ritual tertentu terlebih dahulu. syukur2 kalau langsung dipahami kebutuhannya, tapi seringkali pertanyaan balik “huh, who???” muncul pada saat kita memperkenalkan diri. sedikit gengsi masa lalu dan ke-pede-an sih seringkali muncul … sikap mbung eleh kadang cukup membantu memantapkan ‘posisi’.

positifnya, aku banyak belajar … betapa berbeda berada pada putaran roda teratas dan di paling bawah. setiap putaran menuntun kita untuk  semakin membuka mata. pada saat putaran roda ada di tingkat paling rendah, asal kita mau membuka mata dan hati, banyak hal-hal sepele membuat kita bisa belajar berbesar hati, belajar menjadi ‘besar’ dari hal-hal kecil. banyak peristiwa membuat kita semakin mensyukuri apa yang kita terima -baik atau buruk, banyak atau sedikit- karena biar bagaimana pun, kita masih diberi kesempatan menikmati apa yang kita usahakan.

konteks pertemanan sebaiknya dipahami sebagai bentuk kesetaraan. apapun situasinya, bahkan bagi teman yang juga menjadi bawahannya, pada saat kita berbicara sebagai ‘teman’ … maka kita adalah setara. anggaplah perintah sebagai permintaan tolong, honor sebagai perhatian, dilayani membutuhkan konsekuensi melayani pula, ingin diperhatikan menuntut perhatian vice versa. intinya, semua mengacu kepada asas kebersamaan.

so .. dear friends, be BFF … best friend forever!

my favorite mistake

Posted in 1 on July 8, 2009 by dessirajino

tough girl, sheryl ….